Feeds:
Posts
Comments

Tokyo Godfathers

“Meet the Ultimate Dysfunctional Family”

Menikmati Tokyo Godfathers adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan hati. Jujur saja, saya menangis hampir setiap kali menontonnya (padahal di Animax, film ini hampir selalu diputar setiap tahunnya). Tokyo Godfathers adalah film ke-3 Satoshi Kon, yang disutradarai dan ditulisnya sendiri (bersama Keiko Nabumoto) pada tahun 2003. Film ini menyusul kesuksesan Perfect Blue (1997) dan Millenium Actress (2002) yang tidak kalah menakjubkannya. Animasi merupakan salah satu media film yang luar biasa curang, bayangkan bahwa Anda tidak akan menemukan kendala apapun dalam membuat sebuah cerita. James Cameron tidak akan menunggu bertahun-tahun untuk menunggu membuat AVATAR, dan Christopher Nolan tidak akan menunggu lama untuk membuat Inception jika semua film tersebut dibuat dalam media animasi. Tapi itu bisa jadi topik bahasan lain dan saya tidak berniat untuk mengganggu gugatnya. Oleh karena itulah, saya sungguh mengagungkan media ini sedari dulu. Paparan tentang bagaimana media animasi ini diterima di masyarakat bisa dilihat di review Paprika-nya Kevin (a really nice piece :D ). Untuk saat ini, saya hanya akan bercerita tentang film komedi yang saya nobatkan sebagai salah satu film favorit saya.

Tokyo Godfathers diinspirasi oleh film berjudul The 3 Godfathers (1948) yang bercerita tentang 3 orang laki-laki yang berusaha menyelamatkan seorang bayi dari ibunya yang hampir meninggal dan kemudian membesarkannya. Kurang lebih, film inipun bercerita dengan awal yang sama. Di malam natal, tiga orang gelandangan menemukan seorang bayi di tempat pembuangan sampah. Adalah Gin, seorang mantan pejudi yang meninggalkan rumah karena hutang di meja judi, kemudian Hana, seorang transgender yang ceria, juga Miyuki yang lari dari rumah karena bertengkar dengan ayahnya. Berbekal dengan keinginan Hana untuk mengembalikan bayi yang kemudian diberi nama Kiyoko (yang diberikan sendiri oleh Hana), mereka melintasi kota Tokyo dan membawa mereka pada banyak kejadian spektakuler. Yang membuat film ini begitu menyentuh adalah kejadian-kejadian tersebut kemudian menyambungkan mereka dengan masa lalu masing-masing dan kenyataan tentang orang tua asli dari Kiyoko sendiri.

Berbeda dengan dua film sebelumnya, ataupun Paprika yang keluar di tahun 2006, Tokyo Godfathers bercerita dengan lebih sederhana. Komedi yang ditampilkan di dalamnya mampu menggelitik tidak hanya dengan memancing tawa tapi juga menyentuh hati. Tokyo Godfathers banyak bercerita dengan dialognya yang tajam dan mengalir wajar. Obrolan ketiga tokoh utamanya membuat kita sadar akan banyak hal yang terlupa dan terselip dalam rutinitas kita yang sok kompleks. Padahal seharusnya, banyak hal yang lebih penting dari kehidupan kecil kita sendiri. Saya tidak menyuruh Anda semua simpatik dengan kehidupan gelandangan di luar sana, film ini dibuat tidak hanya untuk isu se-klise itu. Kembali ke tagline film ini, arti keluarga dipertanyakan berkali-kali di film ini. Bagaimana kemudian Miyuki ‘secara kebetulan’ harus berjuang dengan alasannya kabur dari rumah maupun pertemuan Gin ‘secara kebetulan’ dengan anaknya yang ternyata juga bernama Kiyoko. Sebuah kalimat yang dilontarkan Hana di awal film “A child is better with her own mother.” kemudian pada akhirnya harus ditepisnya sendiri ketika ia bertemu dengan Sachiko, orang yang mereka cari-cari.

Kelebihan dari film ini adalah kekuatan penokohan para karakternya yang tergambar baik dan membuat saya terus tertarik dengan kegilaan apa lagi yang akan mereka lakukan selanjutnya. Oh, Anda akan segera jatuh cinta dengan ketiga orang lucu ini. Soundtrack utamanya Ode to Joy, yang entah mengapa menambah kemegahan film ini karena penempatannya yang sesuai di sepanjang film.

Pada akhirnya, semua rangkaian kejadian tersebut ‘secara kebetulan’ membentuk sebuah film yang luar biasa indah untuk dinikmati bersama seluruh keluarga (saya kebetulan nonton dengan kakak dan adik saya). Untuk para penikmat film animasi, film drama, film komedi, fim keluarga, film petualangan, ataupun penghangat hati di kala sepi, saya jelas-jelas akan selalu merekomendasikan film ini. Dengan kesederhanaannya, Tokyo Godfathers telah menjadi sebuah film yang lengkap memenuhi hati kita dengan kehangatannya.

Advertisements

The Last Airbender

Mendapat rating 8% (Rotten Tomatoes) di hari perdana perilisan filmnya, mungkin tidak akan pernah menjadi urusan mudah untuk filmmaker manapun. M. Night Shyamalan lah yang kali ini harus menjadi korbannya. Nama M. Night Shyamalan dikenal dengan film Sixth Sense (1999) yang menuai pujian. Tetapi sungguh sayang karirnya kemudian harus dipertanyakan dengan film The Last Airbender dan disandingkan dengan film seperti Dragon Ball: Evolution (2009). Semenjak mengetahui film Dragon Ball akan difilmkan, saya sudah punya firasat bahwa hasilnya tidak akan terlalu istimewa. Karena media visual film tidak akan mampu menyamai versi komiknya yang lagendaris. Berbeda 180° dari pengharapan saya akan Dragon Ball, saya justru menaruh harapan besar dengan kehadiran The Last Airbender. Semenjak trailer-nya dirilis beberapa bulan yang lalu, saya menanti-nanti akan seperti apa film yang diadaptasi dari TV series keluaran Nickelodeon ini. Trailernya mengundang, jujur saja. Tetapi menyaksikan The Last Airbender di layar besar memang tidak lebih dari penyiksaan selama kurang lebih 100 menit.

Filmnya sendiri dimulai dengan sebuah narasi yang menceritakan bahwa terdapat 4 negara yang berasal dari 4 elemen (air, api, tanah, dan angin) yang dulunya hidup dalam harmoni. Tetapi setelah hilangnya Avatar yaitu pengendali 4 elemen tersebut dan dipercaya mampu membawa kedamaian dunia 100 tahun yang lalu, Negara Api mulai berusaha melakukan invasi untuk menguasai dunia. Setelah itu, kisahnya berlanjut tentang dua kakak adik, Katara (Nicola Peltz) dan Sokka (Jackson Rathbone) yang secara ‘tidak sengaja’ menemukan seorang anak aneh di bawah es. Anak inilah yang kemudian dipercaya sebagai Avatar. Ketiganya pun melakukan perjalanan untuk membuat Aang (Noah Ringer) menjadi Avatar yang sesungguhnya.

Alur cerita filmnya persis sama seperti film kartunnya, SAMA PERSIS malah. The Last Airbender direncanakan dibuat sebagai trilogi yang masing-masing filmnya akan didasarkan pada Book yang ada di film kartunnya, yaitu Water, Earth, dan Fire. Menonton film yang berdasar pada Book Water ini, sekali lagi, SAMA PERSIS seperti menonton satu season film kartunnya. Entahlah, saya merasa Shyamalan malas membuat alur cerita baru untuk filmnya ini. The Last Airbender seperti menyingkat ke-20 episode season pertamanya untuk diringkas menjadi 100 menit yang, kembali saya katakan, dibuat seperti penyiksaan untuk para penontonnya. Dialognya kosong sama sekali, apalagi pelafalan oleh para tokohnya yang kelihatan seperti ‘sekedar’ membaca teks. Akting para pemainnya tidak membuat saya merasa sedang menyaksikan film Hollywood dan malah memuji sinetron yang biasa diputar di SCTV. Michael Dante DiMartino dan Bryan Konietzko, sang pembuat asli film kartunnya harusnya bisa menangis menyaksikan film ini malah berakhir dengan rating rendah yang menyedihkan.

Sayang sungguh sayang, seharusnya film ini mempunyai modal cerita yang kuat luar biasa. Dasar cerita pengendalian elemen di cerita aslinya Avatar: The Last Airbender sungguh sakral dan menarik untuk diulik. Penokohan masing-masing karakternyapun kuat dan membuat kita simpatik untuk terus menonton lanjutan episodenya. Seperti penokohan Pangeran Zukko yang agak kompleks dan Sokka yang ‘seharusnya’ lucu. Aang yang periangpun di filmnya selalu terlihat takut, pusing, dan kurang makan di sepanjang film. Mungkin Ringer sendiri sudah merasakan ancaman yang buruk sepanjang pembuatan filmnya.

Beberapa orang mempertanyakan tentang pemilihan aktor yang tidak sesuai dengan ras asli para tokoh yang ada di kartunnya. Buat saya, justru saya menyukai pemilihan ras tersebut untuk beberapa Negara. Saya merasakan adanya pemikiran yang ‘lumayan’ dalam ketika ras India dipakai untuk menggambarkan Negara Api ataupun ras China yang menggambarkan para pengendali Tanah. Masalah saya memang cuma ada di pemilihan ras Aang, Katara, dan Sokka (yang sayangnya adalah ketiga pemeran utama) yang ternyata dipilih orang bule.

Dari segi pemanis film, saya bahkan tidak mampu berkata apa-apa. Scoring-nya terlalu aneh, sepi dan membingungkan. Saya merasa di bagian harusnya ada scoring malah krik krik dan terasa sepi, tetapi di bagian tidak penting film malah ditambahkan scoring jeng jeng yang tidak sesuai tempat. Pengambilan gambarnya tidak istimewa, dan saya kembali terpaksa harus membandingkannya dengan sinetron SCTV. Kembali disayangkan adalah keberadaan martial art yang dipampang sepanjang film. Keberadaannya terasa terlalu lambat dan sia-sia, padahal harusnya aksi ini kembali menjadi kunci penting untuk memperindah film ini. Masa setiap ada aksi pertarungan, si musuh harus menunggu seseorang selesai memperagakan aksi silatnya dulu untuk menyerang balik? Semuanya memang agak terasa kurang logis.

Kalaupun ada hal yang harus saya puji dari film ini mungkin adalah keberanian M. Night Shyamalan untuk melanjutkan trilogi film ini nantinya. Ataupun aksi CGI-nya yang sebenarnya bagus tetapi tidak mendapat porsi yang baik karena dari awal cerita, M. Night Shyamalan tidak menggunakan CGI ini sebagai daya tarik utama. Padahal keberadaan CGI seharusnya mampu mendongkrak alur cerita film ini dengan aksi kemampuan bending para tokoh di dunia itu. Pada akhirnya, saya tidak menyarankan Anda untuk menonton film ini, lebih baik setel saja Global TV setiap pagi jika ingin mengetahui cerita Avatar: The Last Airbender yang luar biasa bagus. M. Night Shyamalan mungkin sedang mengantuk ketika menulis dan mensutradarai The Last Airbender. Oh ya, untuk Dev Patel, saya lebih menyarankan Anda untuk terus bermain Who Wants to be A Millionaire dibanding bermain api dan memakai topeng aneh.

The Simpsons

Masih teringat di kepala saya, ketika SD menunggu tayangan ini di sore hari, tepat setelah Saint Seiya diputar. Beberapa waktu setelahnya, jadwal putarnya dipindah ke malam hari dan saya masih tetap setia menanti kehadiran The Simpsons. Lahir dari tangan seorang komikus, Matt Groening, ia menamakan karakter The Simpsons dengan nama-nama anggota keluarganya sendiri (ia mengganti namanya sendiri dengan Bart). The Simpsons adalah tipikal kartun Amerika yang sarat violence dan kata-kata kasar. Seperti Bart yang suka menertawakan kebodohan ayahnya sendiri—Homer, ataupun humor tidak lucu yang selalu dibawakan film serial kegemaran Springfield, Itchy and Scratchy. Bahkan kadang saya berpikir, di mana pesan moral serial ini. Tapi toh, saya masih tetap tersangkut di serial ini.

Ah, ceritanya sendiri siapa yang tidak tahu. The Simpsons, seperti judulnya, berkisar tentang cerita-cerita abnormal keluarga Simpsons, yang terdiri dari sang ayah Homer (Dan Castellaneta), istrinya Marge (Julie Kavnner), dan ketiga anaknya Bart (Nancy Cartwright), Lisa (Yeardley Smith), dan Maggie (Nancy Cartwright). Homer, seperti yang kita semua tahu, bodoh keterlaluan, jahat, iri dan dengki. Menjadikan Springfield sebagai rumah bagi kejadian-kejadian ajaib yang melibatkan The Simpsons dan banyak tokoh-tokoh figurannya. Hal ini pula yang merupakan kelebihan dari serial yang sudah bertahan selama 21 season ini. Apa jadinya The Simpsons tanpa seluruh isi Springfield yang super aneh, Mr Burns yang kaya (dan tak punya hati) dan asistennya Smithers, tetangga Homer yang super baik dan sabar, The Flanders, pemilik bar Moe, teman Homer Lenny dan lebih dari ratusan penghuni Springfield yang telah membuat kota rekaan ini menjadi empire besar yang kedetilannya mungkin setara dengan Gotham City tempat Bruce Wayne tinggal.

Kelebihan lain serial ini adalah detil yang ditampilkan secara konsisten di setiap episodenya lewat opening sequence-nya yang dibuat berbeda setiap kali. Anda akan menanti-nanti tulisan apa yang akan ditulis Bart di papan tulis, lagu yang akan dimainkan Lisa, ataupun humor konyol yang ada ketika keluarga Simpsons bertemu di sofa depan TV. Oh, kalau ada yang sadar juga, di opening-nya, Maggie di-label dengan harga $ 847.63. Angka ini merupakan hasil penelitian yang merupakan biaya yang harus dikeluarkan sebuah keluarga untuk membesarkan seorang bayi setiap bulannya di Amerika. The Simpsons juga terkenal dengan penampilan para selebritisnya. Padahal para selebritis ini, termasuk di antaranya Elton John, Andre Agassi, Mick Jagger, bahkan Metallica, kadang hanya muncul secuil di serial ini. Di The Simpsons movie, bahkan Green Day (salah satu band kesukaan saya) dan Arnold Schwarzenegger muncul sebagai cameo. Baru-baru ini juga, iklan Nike terbaru untuk Piala Dunia 2010, Write the Future, menampilkan Homer dan Cristiano Ronaldo versi Simpsons.

Pertama kali menyempil sebagai sebuah tayangan pendek selama 30 detik di The Tracey Ullman Show (pada tahun 1987), The Simpsons telah memiliki lebih dari 400 episode sampai sekarang. Pertama kali mengudara pada tanggal 17 Desember 1989, The Simpsons telah meraih 24 penghargaan Emmy Awards diantaranya adalah 12 penghargaan Outstanding Voice-Over Performance, 10 penghargaan Outstanding Animated Program dan 2 penghargaan Outstanding Main Title Theme Music. Serial ini juga dinobatkan sebagai Best TV Series of Century (untuk abad 20) versi majalah Time, dan memperoleh tempat di Hollywood Walk of Fame di tahun 2000. The Simpsons merupakan film kartun pertama yang ditayangkan secara primetime sejak serial The Flintstones, yang kemudian diikuti dengan kesuksesan serial kartun tahun 1990-an, seperti South Park, King of the Hill dan Family Guy yang juga diputar mengikuti jadwal prime time. Bahkan serial South Park (yang tidak kalah sarkastik ini) membuat penghargaan kepada The Simpsons lewat episodenya yang berjudul “Simpsons Already Did It”.

Tahun 2007, The Simpsons menggebrak dengan film layar lebarnya. Yang trailernya merupakan salah satu trailer terbaik yang pernah saya lihat. Kalimat pembukanya berkata, “In a time when computer animation bring us world of unsurpassed beauty, one film dares to be ugly. The Simpsons Movie, in 2-D!”. Ya, mereka bangga menjadi kuning dan datar. Isu yang diangkat di film ini luar biasa “penting” yang disajikan dengan caranya sendiri, global warming. Di film inipun, Homer tetap bodoh dan humor yang ditampilkan luar biasa jenius. Versi layar lebar The Simpsons telah direncanakan dari tahun 1990, melewati lebih dari sedekade untuk berhasil diwujudkan, dan menghasilkan lebih dari 200 draft skenario yang dianggap ‘kurang bagus’ dan ‘tidak sesuai’. The Simpsons movie akhirnya meraih rating 7.6 di IMDB dan 89% di RottenTomatoes.

Berbagai pihak turut merayakan kemunculan The Simpsons movie. Salah satu franchise burger paling terkenal Burger King mempopulerkan “SimpsonizedMe”, sebuah permainan interaktif di mana kita bisa membuat karakter ala Simpsons dengan hanya memasukkan sebuah foto. Burger King juga membuat burger favorit warga Springfield, Krusty Burger dan membuat iklan yang menampilkan Homer yang ingin memakan Whoppers (menu andalan Burger King). Sebuah brand convenience store, 7/11 bahkan mengubah tampilan tokonya menjadi mirip dengan toko Kwiki-E Mart milik Apu.

Setelah semua itu, The Simpsons masih punya para pengikut setia. Komedi satir yang kadang menyerempat sisi politik, lingkungan hidup dan situasi kehidupan di Amerika, ini telah berubah menjadi fenomena global yang telah bertahan selama hampir 2 dekade. The Simpsons telah banyak menuai kontroversi, mulai dari beberapa orang tua yang menganggap Bart adalah contoh buruk bagi anak-anaknya ataupun berbagai buku yang berisi tentang pengaruh serial ini terhadap psikologi. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa The Simpsons telah mempengaruhi banyak aspek kehidupan kita. Penggunaan-penggunaan catchphrase seperti “D’oh!” milik Homer ataupun istilah Bart “Aye, Caramba!” atau “Eat my shorts!” telah melegenda dan melebur di masyarakat. The Simpsons telah menggambarkan dengan baik kehidupan keluarga di Amerika dengan ke-dysfunctional-annya. Tak heran bahwa serial ini kemudian disebut-sebut sebagai The First Family of Animation dan masih terus menjadi TV serial kesayangan warga Amerika.

Homer: Sometimes I think we’re the worst family in town.
Marge: Maybe we should move to a bigger community.
Lisa: Dad, the sad truth is, all families are like this.

Fun Facts:

– Pada tahun 2001, kata “D’oh!” yang diucapkan Homer akhirnya dimasukkan ke Oxford Dictionary yang diartikan sebagai “Expressing frustration at the realization that things have turned out badly or not as planned, or that one has just said or done something foolish”.

– Menurut sebuah artikel yang ditulis oleh Alyson Grala dari License! Global bertajuk “Salute to The Simpsons”, kehebatan branding serial ini telah menghasilkan $ 5 milyar setiap tahunnya untuk royalti penggunaan brand The Simpsons.

– Para pengisi suara serial ini bahkan digaji hampir $ 400.000 untuk tiap episodenya.

– Di tahun 2009, untuk merayakan 20 tahun kehadiran serial ini, seorang penggemar fanatik The Simpsons, Mr Stott mencoba menorehkan namanya di Guinness Book of Records dengan menonton 451 episodenya tanpa tidur sekalipun. Ia hanya diberi kesempatan beristirahat selama kurang lebih 20 menit setiap menonton 3 episode. Ia harus memastikan matanya terus menempel ke TV, sehingga iapun tidak diperbolehkan melihat piring ketika makan.

MTV Movie Award

Tepat tanggal 6 Juni 2010 kemarin, Twilight Saga dengan film keduanya New Moon, menyapu habis panggung MTV Movie Award 2010. Terduga? Tentu saja! Dengan fans sebanyak itu, memang tidak aneh bagi film ini menerima tepuk tangan seheboh itu. MTV Movie Award memang penghargaan yang berbasis pooling, makanya dikenal istilah fan-based/fandom. Artinya, Golden Popcorn MTV akan jatuh ke tangan para artis favorit penonton—yang kebanyakan adalah anak muda ini (di Indonesia dikenal dengan sebutan anak nongkrong MTV)—jika mereka rajin mengikuti pooling yang ada di situs MTV. Tidak sedikit yang kemudian menghujat kemenangan Twilight, yang selama 2 tahun ke belakang rajin tampil di MTV Movie Award. Tidak ada yang salah dengan Twilight, toh setelah banyak orang yang menyumpah-nyumpah kenapa Pattinson mendapat penghargaan sebagai Global Superstar dan Best Male Performance, tetap saja akan ada antrian bioskop yang panjang untuk Twilight Saga keluaran ketiga: Eclipse. Dan tidak aneh lagi, jika untuk beberapa tahun ke depan, duet maut Stewart-Pattinson akan mengoleksi golden popcorn lagi (setidaknya sampai Twilight Saga terakhir habis diluncurkan). Banyak orang kemudian mengatakan bahwa MTV Movie Award tidaklah lagi relevan disebut ajang penghargaan film, karena nominasi-nya yang lama kelamaan ‘tambah aneh’. Mungkin karena banyaknya film-film ‘tak terduga’ yang masuk nominasi (kapan lagi National Treasure 2 dan 50 First Date bisa masuk menjadi nominasi Best Movie). Tetapi buat saya, menilik napak tilas MTV Movie Award beberapa tahun kemarin, saya tetap menganggap acara ini sebagai ajang penghargaan yang saya tunggu-tunggu setiap tahunnya.

MTV Movie Awards pertama kali mengudara di tahun 1992 (dengan Terminator 2: The Judgment Day sebagai Best Movie-nya). Sampai tahun 2006, acara penghargaan ini masih direkam ketika penayangannya. Sampai tahun 2007, produser reality show terkeren sepanjang masa—Mark Burnett mengambil alih MTV Movie Awards dan menyiarkan secara live. Setiap tahunnya, selalu ada momen yang terbawa pulang setelah menonton acara ini, siapa yang tidak ingat bagaimana Eminem ‘kejatuhan’ Borat di tahun 2009, ataupun ketika duet Seann William Scott dan Justin Timberlake membuat kita tertawa sejadi-jadinya dengan parodi The Matrix Reloaded-nya di tahun 2003. Setelah itupun, menjadi host MTV Movie Awards adalah sebuah job yang prestigius untuk para selebritis. Yaah, kita tahu kenapa Mike Myers dipilih menjadi host dua kali (1997 dan 2008), atau bagaimana manusia terlucu sepanjang sejarah—Jack Black dipasangkan dengan Sarah Michelle Gellar di tahun 2002, tapi siapa yang menyangka MTV akan mengizinkan Lindsay Lohan (yang masih waras waktu itu) membuka acara dengan tariannya dan menjadi host solo paling hot di tahun 2004.

Highlight MTV Movie Awards mungkin adalah penghargaan Best Kiss-nya yang selalu dinanti-nanti. Pada tahun pertamanya, 1992, Anna Clumshky (yang masih berusia 11 tahun) mendapat penghargaan ini dalam perannya di My Girl (masih ingat dong film ini? One of the sweetest love story of all time). Pemenang-pemenang penghargaan ini di tahun-tahun selanjutnyapun antara lain adalah Jason Biggs—Drew Barrymore—Adam Sandler (The Wedding Singer, 1998), Seann William Scott (American Pie 2, 2002), Tobey Maguire—Kirsten Dunst (Spiderman 2, 2003), dan tentu saja Jake Gyllenhaal—Heath Ledger (Brokeback Mountain, 2006). Mengutip tagline sebuah restoran Burger kesukaan saya, it is worth the wait.

Film-film pemenang MTV Movie Awards memang cenderung beda dengan festival-festival lain, beberapa kritik bahkan menyebut ajang ini sebagai campurannya Oscar dan Razzie Awards. Tetapi, mungkin film-film inilah yang membawa ‘suara’ para generasi masa kini. Saya masih ingat ketika Jon Heder berkali-kali naik ke atas panggung di ajang MTV Movie Awards tahun 2005 kemarin. Napoleon Dynamite memang sempat menjadi tren, film indie dengan budget murah dan jalur cerita aneh ini disukai karena pola filmnya yang anak muda banget. Seorang geek dengan muka dan rambut aneh bertemu dengan teman pindahannya yang bertampang tua, dan akhirnya berjuang untuk mendapatkan kursi presiden sekolah. The movie is just damn freak, but we’re all freaks when we were young! Karena keberaniannya menjadi freak, Napoleon Dynamite mengalahkan Ray dan The Incredibles, menjadi Best Movie di tahun itu. Sepuluh tahun sebelumnya, Quentin Tarantino meraih penghargaan yang sama dengan Pulp Fiction-nya. Di acceptance speech-nya, Tarantino mengeluarkan sebuah joke yang kemudian,menempatkan MTV Movie Awards dengan solid pada dunia perfilman.

Tarantino: Pop quiz, hot shot! What do you do when you’ve been going to award show after award show all year long, and keep losing to Forrest Gump?

Crowd: What, Mr. Tarantino?

Tarantino: You go to the MTV Movie Awards!

Itulah mengapa saya tetap menunggu-nunggu MTV Movie Awards setiap tahunnya, karena menurut saya, justru MTV secara objektif menilai sebuah film dengan memberikan hak kepada para penontonnya untuk benar-benar menjadi juri. Tidak seperti ajang bergengsi lainnya macam Cannes atau Sundance yang memberikan kesempatan ‘hanya’ kepada para board of jury-nya untuk bersikap objektif terhadap film-film yang berkompetisi (tetapi secara sengaja tidak sengaja justru memberikan kesempatan pada para jurinya untuk bersikap subjektif). Buat saya sendiri sih, menonton MTV Movie Awards menjadi kebalikannya festival-festival film tersebut, karena setelah film pemenang festival keluar, biasanya saya akan segera memburu film-filmnya dan baru jatuh cinta kepadanya. Tetapi di MTV Movie Awards, you go to the movies, fall in love with the movie, and give awards to the movie you love the most. Seperti tren fashion yang berganti setiap musim dan kamera sekali pakai, MTV tetap akan disukai karena kemampuannya beradaptasi kepada para penonton mudanya. Jadi, kita tinggal tunggu kejutan apa lagi yang akan dibuat MTV Movie Awards di tahun depan, meanwhile, let’s have a stack on this year summer movie. Karena siapa tahu, film-film inilah yang akan jadi juaranya di MTV Movie Award tahun depan. Happy watching! :)

Beberapa tahun yang lalu, saya tidak pernah berpikir untuk menulis review film. Saya memang tergila-gila untuk membuat film, tetapi untuk berkomentar dan menuliskannya, saya merasa tidak pantas. Sampai sekarangpun tetap begitu, walaupun saya sudah punya blog review film sendiri. Saya masih merasa tidak pantas, dan kadang merasa gaya menulis saya masih biasa-biasa saja. Tapi orang bilang yang penting pede, makanya saya masih melanjutkan menulis review yang biasa-biasa saja itu. Makanya saya tidak pernah berani untuk memberikan bintang atau angka untuk sebuah film, karena saya masih belum bisa menetapkan acuan saya.

Saya ingat satu-satunya website yang menjadi kitab suci saya tentang film adalah RumahFilm dengan Eric Sasono dan Hikmat Darmawan sebagai penulis favorit saya. Situs yang memberangkatkan para redakturnya ke Cannes untuk meliput. Saya ingat betul bagaimana dengan naifnya saya memulai menulis review pertama saya—Iron Man—summer movies pertama yang keluar tahun 2008. Sayapun mencoba membandingkannya dengan beberapa review milik kritikus di luar sana, New York Times, RottenTomatoes, Roger Ebert, ah gaya kritik saya mirip-mirip. Mereka memuji akting Robert Downey, saya juga. Mereka menyebut tentang adegan laga yang tidak berlebihan, saya juga. Tetapi mulut saya ternganga membaca resensi di RumahFilm. Judul filmnya sama, ceritanya pasti juga sama, tapi kedalaman berpikir dan ide yang dibawa resensi ini sungguh cerkas. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan ulasan saya yang tampak standar. Eric Sasono memang dewa.

Setahun kemudian, saya menikmati Sinema Indonesia. Blog review milik dua reviewer Indonesia selayaknya Roeper & Ebert, dan punya gaya bercerita ala Perez Hilton. Menjatuhkan film yang seharusnya dijatuhkan, film-film Indonesia kelas tiga dengan banyak setan, baju minim, humor tidak lucu dan belahan dada kemana-mana. Film-film yang (menurut saya) tidak selayaknya tampil di layar lebar dengan omset sebesar itu. Mereka menyebut film-film kampungan Indonesia dengan sebutan ‘kancut’, yang kemudian menjadi kata acuan di kitab suci makian film Indonesia. Sama kerennya dengan kata ‘akika’ di kamus gaul Debby Sahertian. Sayangnya website ini tidak melanjutkan makian-makiannya yang fenomenal itu, dan nampaknya saya harus mencari website langganan baru.

Lalu, dalam kurun waktu dua tahun, saya menyaksikan bertambahnya situs/blog review film milik anak muda bangsa. Satu yang mungkin paling populer mungkin GilaSinema dan Labirin Film, blog keduanya bercerita tentang film dengan rapih dan komplit. Nampaknya, ia siap menjadi fashion tren yang siap di-follow—meminjam bahasa gaulnya anak muda sekarang—bagi para pencinta film. Setelah itu, berjamurlah blog-blog review dengan gaya menulisnya masing-masing, ada yang bercerita tentang pengalamannya menonton (VampiBots, sayabilangfilm), ada yang berfokus pada genre yang mereka kagumi saja (Horror Popcorn), ada yang membuat portal situs (Movietei), ada yang berbincang dalam forum (BicaraFilm). Tetapi semuanya mengarah pada hal yang sama, budaya apresiasi terhadap film.

Roger Ebert pernah menulis sebuah artikel tentang Golden Age of Movie Critic, dan mungkin sekaranglah saatnya. Di artikelnya itu ia menulis tentang pekerjaan (mungkin lebih tepat disebut profesi) sebagai kritikus tidak mendatangkan uang, tetapi semua orang melakukannya karena mereka memang murni menikmati menulis kritik.

Kalau Amerika punya EbertFest yang juga mempertemukan para kritikus film paling masyur di bidangnya. Mungkin suatu saat, Indonesia akan punya event yang sama. Setelah para blogger mengadakan event kopi darat terbesar bernama Pesta Blogger, harusnya impian seperti ini tidak akan sulit untuk terwujud.

Saya ingat pertama kali saya menulis review film, Iron Man adalah filmnya. Summer movies pertama yang saya tonton dua tahun lalu. Di sinilah saya, 30 April 2010, menonton sekuel Iron Man 2, tanpa embel-embel. Sekuel selalu mengundang rasa kekhawatiran, karena film sekuel tentu saja punya pembanding yang jelas. Film pendahulunya akan dijadikan referensi utama ketika semua orang menulis review film sekuel. Film superhero dengan sekuel yang berhasil untuk saya baru ada dua, Spiderman dan Dark Knight. Well, third is the lucky number, Iron Man 2 simply completed the list.

Jon Favreau masih punya sentuhan magisnya, dengan suasana rock yang sama, Iron Man 2 kembali mengguncang saya. Untuk ceritanya, ah saya tidak akan bicara apa-apa. Lebih baik menontonnya sendiri, karena saya sudah menduga akan berteriak-teriak di kursi. Satu hal yang membuat saya suka dengan karakter Iron Man adalah, Tony Stark bukan tipikal superhero biasa yang bersembunyi di balik topeng atau kacamata tebal. Tony Stark adalah eksibisionis yang terlampau narsis. Ia malah mengumumkan pada dunia bahwa dia adalah superhero. Semenjak akhir film Iron Man, dengan kalimat penutupnya, “I am Iron Man”, Favreau memberikan ending terbaik yang pernah saya nonton. Karena emosi saya justru semakin meluap mendengar kalimat tersebut. Sehingga tentu saja sekuel Iron Man 2 menjadi film yang ditunggu-tunggu.

Lonjakan scenenya sungguh eksplosif. Walaupun ada beberapa adegan yang menurut saya terbuang dengan percuma, tapi semuanya tertutup dengan action scenenya maupun dialog-dialognya. Dari bagian dialognya, saya jujurnya suka sekali! Banyak early review yang menyayangkan bagian di mana banyak karakter yang berbicara secara bersamaan sehingga apa yang dibicarakan menjadi tidak jelas. Hal ini mungkin terjadi di bagian dialog Tony (Robert Downey Jr.) dan Pepper (Gwyneth Partlow) yang sering bertengkar. Tetapi, justru dengan keberadaannya dialog-dialog tersebut saya merasa bagian itulah yang memperkuat kewajaran dari film ini untuk bercerita kepada kita. Dialog-dialognya terasa wajar terdengar, dan semuanya dilafalkan dengan baik.

Dari akting, Robert Downey Jr dan Gwyneth Partlow tidak usah diragukan lagi, mereka masih berperan bagus seperti di Iron Man pertama. Jujurnya, saya masih lebih suka Terrence Howard untuk berperan sebagai Capt. Rhodey, tetapi toh Don Chadle juga bermain baik. Tetapi saya masih merasa dia masih tidak terlalu komikal untuk berperan sebagai tokoh adaptasi komik. Mickey Rourke keren sekali, berperan sebagai Ivan Vanko yang jenius. You’ve got to love this man! Mukanya jahat sekali, dan kerut-kerut di wajahnya membuat tokoh ini semakin terlihat jahat tulen. Keren! The Black Widow—Natalie Rummerson (Scarlett Johanson) memang berakting tidak terlalu istimewa, dan mungkin kehadirannya tidak terlalu berpengaruh di jalan ceritanya sendiri tapi dia cantik sekali, wuih! Kejutannya, Jon Favreau bermain di film ini sebagai Happy Hogan.

Untuk bagian action-nya, tidak usah bertanya-tanya lagi. War Machine doubles the fun! Film ini juga menunjukkan kalau adegan pertarungan dengan musuh utama yang singkat dapat diciptakan dengan baik jika pembangunan ceritanya baik dari awal. Anda tidak akan menemukan kekesalan yang sama seperti menonton Transformers 2 atau Clash of the Titans.

Dari sisi ceritanya, jujurnya memang Iron Man 2 masih kalah jauh dari film pendahulunya. Tetapi, banyak extra (Scarlett, Ivan Vanko, action yang keren) yang menyenangkan di film ini, sehingga saya masih dapat menikmati film ini dengan bahagia. Di sebelah saya banyak anak-anak kecil yang menonton, tapi saya justru masih lebih ribut dari mereka. Banyak adegan yang mampu membuat saya dengan mudah bertepuk tangan dan berteriak kegirangan. Nampaknya, Marvel secara sengaja tidak sengaja memasukkan banyak teaser untuk The Avenger di film ini, mulai dari shieldnya Captain America dan palu Thor. Yah, kita lihat saja apa maunya si Marvel ini ketika film-film tersebut rilis di 2 tahun mendatang. Pada akhirnya, saya merasa iri kenapa Tony Stark bisa sejenius itu, dan rasanya kita bisa membuat apa saja kalau kita pintar.

Recommended Consensus: Iron Man 2 still has a whole lot of pack of a superhero movie. Though there’s some flaw of the storyline, the excitement remains the same. The sensation still trembles your body, makes your heart race faster, and forces you to scream louder, “We want more!”.

Tulisan ini dibuat pada tahun 2008 dan sekaligus menjadi awal pertama kali saya menulis review film.

Adaptasi merupakan proses penyesuaian di mana suatu benda diolah agar cocok dengan keadaan yang lain. Proses ini ternyata berlaku juga untuk dunia perfilman. Konsep audio-visual yang ditawarkan oleh film telah mengisi kekosongan yang ada pada berbagai literatur. Bahkan media 2-D yang ditawarkan oleh komikpun dirasa kurang untuk mewujudkan suatu cerita. Berbagai titel komik telah diangkat ke layar lebar. Sebut saja Batman, Superman, Hulk, X-Men, Fantastic Four, dan lain-lain. Pada awal pembuatannya, komik dibuat dengan target pembaca anak-anak dan remaja Pada umumnya, target inilah yang juga ingin dicapai oleh adaptasi filmnya. Tren bergeser ketika Tim Burton men-direct Batman (1989) dan Batman Returns (1992). Atmosfer gelap khas Burton telah menyulap film ini menjadi pergulatan batin Bruce Wayne sebagai manusia daripada sekedar aksi penyelamatan kota Gotham dengan mobil super mahal.

Tapi rupanya, Burton tidak berhasil mengikat target penonton yang semula diharapkan karena problematika Batman yang dianggap terlalu dewasa. Hal ini berhasil diperbaiki oleh Sam Raimi dalam Spiderman (2002), yang menghadirkan karakter pemuda biasa yang dianugerahi kemampuan super untuk mengeluarkan jaring laba-laba. Bumbu drama dan romance yang diusung telah menarik bukan saja remaja dan anak-anak, tetapi juga para penonton dewasa.

Pola ini jugalah yang diusung oleh sutradara Jon Favreau dalam mengadaptasi Iron Man. Ia tidak saja membuat berbagai target usia tertarik dengan film ini, tetapi ia juga berhasil memuaskan para penggemar komiknya. Favreau menghadirkan apa yang paling ingin dilihat para penggemar Iron Man di layar lebar.

Iron Man bercerita tentang seorang pencipta senjata jenius dan pemilik Stark Industries, Tony Stark (Robert Downey Jr.). Hidupnya yang bergelimang harta dan dipenuhi oleh deretan wanita berubah ketika ia berkunjung ke Afghanistan untuk memperlihatkan kemampuan rudal terbaru ciptaannya. Ia diculik oleh sekelompok teroris dan diperintahkan untuk menciptakan sebuah rudal. Tetapi, ia malah menciptakan sebuah baju besi yang dilengkapi senjata untuk dapat melarikan diri dari kelompok teroris tersebut. Baju besi inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Iron Man. Di tempat itu jugalah, Tony bertemu dengan seorang seorang ilmuwan bernama Yensin. Kematian Yensin untuk membantu Tony melarikan diri inilah yang kemudian membuat perubahan besar dalam dirinya.

Downey menghadirkan sensasi yang berbeda dalam tokoh Tony Stark, aktingnya sangat meyakinkan. Ia tidak perlu mengeluarkan effort terlalu besar untuk membuat kita percaya bahwa dia adalah seorang superhero. Akting yang menawan juga disajikan oleh Gwyneth Paltrow sebagai Pepper Potts, asisten pribadi Stark yang sangat setia dan Jeff Bridges sebagai Obadiah Stane, pemeran antagonis di film ini.

Walau tidak ada perubahan dalam pola penggambarannya, plot cerita Iron Man sangat menarik, dan bumbu humor yang dihadirkan mendapat porsi yang pas. Banyak kejutan yang ada di film ini yang mampu membuat kita dapat menikmati film ini. Tidak usah mempertanyakan special effect-nya. Semua orang sudah tahu apa yang dapat terjadi setelah Transformer (2007) mendapat Best Achievement in Visual Effect pada Oscar 2008. Hollywood tampak siap membuat special effect dan animasi serumit apapun. Tapi rupanya, Favreau berhasil menahan dirinya untuk tidak menggunakan special effect secara berlebihan, sehingga film ini tetap enak dilihat. Tetapi Iron Man tidak luput dari celah-celah kecil. Seperti adegan ketika para teroris memerintahkan Tony membuat rudal dalam waktu seminggu, tetapi di adegan lain dikatakan bahwa Tony telah menghilang selama 3 bulan.

Selayaknya film adaptasi, ada hal-hal yang dihilangkan dan ditambahkan untuk mencapai kesesuaian. Mungkin hal inilah yang patut dipuji pada Iron Man, karena penambahan dan pengurangan yang ada tidak menganggu jalannya film ini. Penggemar komik Iron Man akan mengerti ketika Captain Rhodes (Terrence Howard) berkata “Next time, baby.” ketika melihat baju yang tergantung di ruang bawah tanah Tony. Mungkin itulah janji kehadiran War Machine di sekuel Iron Man. Dan siapa yang kemudian mengira bahwa kehadiran agen membosankan yang muncul di sepanjang film telah menuntun kita kepada organisasi bernama SHIELD. Hal ini membuat penonton yang membaca komik Iron Man sebelumnya maupun yang tidak membacanya tetap dapat menikmati film ini. Plot cerita kemunculan Iron Man juga tidak melenceng dari komik aslinya, perbedaannya mungkin hanya pada pemilihan tempat di Afghanistan (yang semula bersetting perang Vietnam). Riset Favreau kepada para penggemar komiknya ternyata membuahkan hasil yang menggembirakan, menonton film ini merupakan pengalaman yang menyenangkan. Iron Man merupakan film pembuka yang sangat pas untuk mengawali rentetan Summer Movies di tahun ini.