Feeds:
Posts
Comments

HOSTEL

Dua orang pemuda Amerika, Paxton (Jay Hernandez) dan Josh (Derek Richardson) bertemu dengan seorang Islandia, Oli (Eyþór Guðjónsson), dalam liburan mereka di Eropa. Keduanya pun mengalami liburan yang memang sulit dilupakan. Mengejar hisapan ganja dan seks gratis, merekapun mendapatakannya dengan mudah. Cerita bergulir ketika, seorang informan bernama Alexei (Lubomir Bukovy), menyarankan mereka untuk pergi ke Bratislava di pinggiran Slovakia. Surga bagi para pecinta seks dan judi, yang dikatakan merupakan gudang para wanita terbaik. Pertemuan mereka dengan para gadis di sebuah hostel yang bernama Russian Natalya (Barbara Nedeljakova) dan Czech Svetlana (Jana Kaderabkova) kemudian menuntun mereka ke sebuah rangkaian kejadian yang menyayat-nyayat nyali. Ketika Oli bersama seorang gadis Jepang bernama Yuki yang ditemuinya tidak kembali ke kamar Hostel mereka, Paxton dan Josh mulai menyadari ada yang tidak beres di kota itu. Tanpa sadar, merekapun menjadi salah satu korban sebuah perkumpulan “tidak beres” yang bertempat di kota tersebut.

 

Ditulis dan disutradarai sendiri oleh Eli Roth, Hostel mendudukkan dirinya sebagai salah satu film thriller super ngeri menurut saya. Kalau Anda tidak kenal siapa Eli Roth, dia adalah sang pemeran Donny Donowitz atau The Bear Jew yang bermain dalam Inglourious Basterds arahan Quentin Tarantino. Dalam Hostel, Tarantino jugalah yang menjadi produser film ini. Hostel merupakan film yang dibuat dengan budget rendah tetapi menuai kesuksesan dengan pendapatan kotor yang berlipat ganda. Ditaksir dengan pengeluaran sekitar $ 4 juta, Hostel berhasil meraih pendapatan kotor sekitar $ 80 juta dan $ 180 dari penjualan DVD. Jean Francois Raugier dari French Cinematheque bahkan menobatkan Hostel sebagai Best Film of the Decade dalam Film Comment Magazine edisi Januari 2010. Hostel part II yang juga disutradarai oleh Roth keluar di tahun 2007, tetapi filmnya muncul duluan di internet sebelum filmnya dirilis, sehingga kesuksesan Hostel tidak dicapai oleh sekuelnya ini.

 

Untuk para pembenci film yang sarat dengan nudity, kekerasan, dan darah, saya sarankan jangan repot-repot memaksa menyaksikan film ini. Karena ketiga hal itulah yang menjadi menu utama dalam Hostel.

 

Dalam film berdurasi sekitar 90 menit ini, penonton dibawa perlahan menuju inti film yang sesungguhnya. Saya bisa katakan, 1/3 bagian pertama penuh dengan adegan-adegan nudity dan seks, 1/3 bagian selanjutnya mengantar kita ke turning point film ini untuk menyaksikan klimaks apa yang sebenarnya ingin dipaparkan oleh film ini. 30 menit selanjutnya adalah siksaan (secara harfiah dan simbolis). 30 menit akhir bagian film ini dijamin membuat Anda berteriak, menutup mata, merasakan kengerian dan horor yang mutlak. Darah dan organ tubuh menjadi hidangan segar yang tidak pernah berhenti disajikan selama waktu 30 menit tersebut.

 

Sound effect dalam film thriller merupakan salah satu elemen penting yang mutlak ada. Dalam Hostel, pembubuhan sound effect-nya luar biasa dan mampu membuat jantung saya berdegup kencang dengan keberadaannya di sepanjang film. Apalagi adegan-adegan akhir saat Paxton berada di gedung tua di 30 menit terakhir.

 

Segi ke-thriller-an film ini maksimal, mungkin setingkat di bawah Cannibal Holocaust (1980). Sebenarnya, saya tidak menggemari genre film ini, tetapi setelah menyaksikan penurunan kualitas film thriller franchise SAW (yang baru saja mengeluarkan SAW 3D), tidak afdol rasanya untuk melewatkan Hostel. Selain jenis penonton yang telah saya peringkatkan dengan garis bawah di atas, saya merekomendasikan Anda untuk menonton film ini. Apalagi untuk ditonton bersama teman-teman, karena dijamin seru dan memancing teriakan. Satu hal yang membuat Hostel mengukuhkan dirinya menjadi salah satu film thriller terbaik adalah karena selain menjual adegan-adegan sadisnya, Hostel menjual segi kelogisan di dalam ceritanya. Hal yang kadang dilupakan oleh para pembuat film thriller macam ini.

SHERLOCK

Ya, ya, sebut saja ini adalah adaptasi lain dari novel favorit kerajaan Inggris, Sherlock Holmes. Jujur saja, saya penggemar berat Sherlock Holmes dan mungkin saya sudah cukup bosan untuk adaptasi lain dari serial ini. Adaptasi terbarunya bahkan sampai ke tangan Guy Ritchie, sutradara action jenius yang tau bagaimana mengemas novel ini jadi seperti film superhero dengan Sherlock Holmes (2009). Ketika saya disodorkan TV Series ini, saya kembali membayangkan jalanan kota London tahun 1800-an di waktu malam dengan sosok Sherlock yang kurus dan Dr. Watson yang mengekor di belakangnya. Sayangnya, semua pikiran itu musnah.

Katakan selamat datang di London tahun 2010!

Ini adalah era modern dimana semua hal berlangsung lewat internet dan koneksi ponsel cerdas. Cerita kemudian dimulai dengan pengenalan Dr. John Watson (Martin Freeman), mantan dokter tentara yang sedang menjalani terapi psychosomatic limp karena paska trauma sepulang perang di Afghanistan. Cerita selanjutnya kemudian dapat ditebak, ia bertemu dengan Sherlock Holmes (Benedict Cumberbatch) yang menamakan profesinya sebagai Consulting Detective. Keduanya bertualang memecahkan kasus-kasus yang terjadi di sekitar kota London.

Yang paling saya suka adalah bagaimana kemampuan analisis deduksi Holmes digambarkan dengan huruf-huruf yang melayang dan pace cut-to yang cepat. Sungguh keren dan seketika membuat saya yakin bahwa cerita ini benar-benar terjadi di dunia modern. Tokoh-tokoh yang ada di sepanjang cerita tidak ada yang berubah, penokohannya pun pas dan sesuai (saya suka sekali bagaimana Sherlock yang pengguna narkoba digambarkan kecanduan nicotine pack). Hanya elemen-elemen cerita yang kemudian diterjemahkan ke dunia modern. Dimana surat berubah menjadi pesan SMS, dan kereta kuda bertranformasi menjadi taksi. Satu penggambaran yang saya suka adalah bagaimana transkrip cerita Watson berubah menjadi postingan blog. Bahkan BBC benar-benar membuat blog tersebut dan situs The Science of Deduction milik Sherlock yang juga benar-benar dapat diakses. Beberapa fans malahan sudah membuat beberapa fansite yang mendukung keberadaan serial ini, salah satunya adalah situs Sherlocking yang sekarang sedang membuka kontes fanfiction untuk para penggemar Sherlock.

Episode yang pertama berjudul Study in Pink, sungguh menarik membandingkannya dengan novel Sherlock Holmes yang pertama yang berjudul mirip, Study in Scarlet. Yang menarik adalah, mereka tidak menerjemahkan persis cerita-cerita di novelnya tetapi beberapa dicampur untuk menambah bumbu cerita dan menyesuaikannya dengan dunia sekarang. Episode keduanya berjudul The Blind Banker. Sedangkan episode ketiganya yang berjudul The Great Game merupakan pertemuan pertama Sherlock dengan musuh bebuyutannya Moriarty dan masih menjadi episode favorit saya sampai saat ini.

Serial TV yang pertama mengudara tanggal 25 Juli 2010 ini oleh BBC One ini diciptakan oleh Steven Moffat and Mark Gatiss. Setelah mendapat review yang positif, BBC berniat melanjutkan serial ini untuk waktu tayang yang lebih lama. Sampai saat ini, baru ada 3 episode yang masing-masing berdurasi 90 menit. Jadi, Anda belum ketinggalan jauh untuk mengikuti serial yang menarik ini dan menikmati adaptasi segar untuk kisah yang tak akan pernah lekang dimakan oleh zaman.

Tokyo Godfathers

“Meet the Ultimate Dysfunctional Family”

Menikmati Tokyo Godfathers adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan hati. Jujur saja, saya menangis hampir setiap kali menontonnya (padahal di Animax, film ini hampir selalu diputar setiap tahunnya). Tokyo Godfathers adalah film ke-3 Satoshi Kon, yang disutradarai dan ditulisnya sendiri (bersama Keiko Nabumoto) pada tahun 2003. Film ini menyusul kesuksesan Perfect Blue (1997) dan Millenium Actress (2002) yang tidak kalah menakjubkannya. Animasi merupakan salah satu media film yang luar biasa curang, bayangkan bahwa Anda tidak akan menemukan kendala apapun dalam membuat sebuah cerita. James Cameron tidak akan menunggu bertahun-tahun untuk menunggu membuat AVATAR, dan Christopher Nolan tidak akan menunggu lama untuk membuat Inception jika semua film tersebut dibuat dalam media animasi. Tapi itu bisa jadi topik bahasan lain dan saya tidak berniat untuk mengganggu gugatnya. Oleh karena itulah, saya sungguh mengagungkan media ini sedari dulu. Paparan tentang bagaimana media animasi ini diterima di masyarakat bisa dilihat di review Paprika-nya Kevin (a really nice piece :D ). Untuk saat ini, saya hanya akan bercerita tentang film komedi yang saya nobatkan sebagai salah satu film favorit saya.

Tokyo Godfathers diinspirasi oleh film berjudul The 3 Godfathers (1948) yang bercerita tentang 3 orang laki-laki yang berusaha menyelamatkan seorang bayi dari ibunya yang hampir meninggal dan kemudian membesarkannya. Kurang lebih, film inipun bercerita dengan awal yang sama. Di malam natal, tiga orang gelandangan menemukan seorang bayi di tempat pembuangan sampah. Adalah Gin, seorang mantan pejudi yang meninggalkan rumah karena hutang di meja judi, kemudian Hana, seorang transgender yang ceria, juga Miyuki yang lari dari rumah karena bertengkar dengan ayahnya. Berbekal dengan keinginan Hana untuk mengembalikan bayi yang kemudian diberi nama Kiyoko (yang diberikan sendiri oleh Hana), mereka melintasi kota Tokyo dan membawa mereka pada banyak kejadian spektakuler. Yang membuat film ini begitu menyentuh adalah kejadian-kejadian tersebut kemudian menyambungkan mereka dengan masa lalu masing-masing dan kenyataan tentang orang tua asli dari Kiyoko sendiri.

Berbeda dengan dua film sebelumnya, ataupun Paprika yang keluar di tahun 2006, Tokyo Godfathers bercerita dengan lebih sederhana. Komedi yang ditampilkan di dalamnya mampu menggelitik tidak hanya dengan memancing tawa tapi juga menyentuh hati. Tokyo Godfathers banyak bercerita dengan dialognya yang tajam dan mengalir wajar. Obrolan ketiga tokoh utamanya membuat kita sadar akan banyak hal yang terlupa dan terselip dalam rutinitas kita yang sok kompleks. Padahal seharusnya, banyak hal yang lebih penting dari kehidupan kecil kita sendiri. Saya tidak menyuruh Anda semua simpatik dengan kehidupan gelandangan di luar sana, film ini dibuat tidak hanya untuk isu se-klise itu. Kembali ke tagline film ini, arti keluarga dipertanyakan berkali-kali di film ini. Bagaimana kemudian Miyuki ‘secara kebetulan’ harus berjuang dengan alasannya kabur dari rumah maupun pertemuan Gin ‘secara kebetulan’ dengan anaknya yang ternyata juga bernama Kiyoko. Sebuah kalimat yang dilontarkan Hana di awal film “A child is better with her own mother.” kemudian pada akhirnya harus ditepisnya sendiri ketika ia bertemu dengan Sachiko, orang yang mereka cari-cari.

Kelebihan dari film ini adalah kekuatan penokohan para karakternya yang tergambar baik dan membuat saya terus tertarik dengan kegilaan apa lagi yang akan mereka lakukan selanjutnya. Oh, Anda akan segera jatuh cinta dengan ketiga orang lucu ini. Soundtrack utamanya Ode to Joy, yang entah mengapa menambah kemegahan film ini karena penempatannya yang sesuai di sepanjang film.

Pada akhirnya, semua rangkaian kejadian tersebut ‘secara kebetulan’ membentuk sebuah film yang luar biasa indah untuk dinikmati bersama seluruh keluarga (saya kebetulan nonton dengan kakak dan adik saya). Untuk para penikmat film animasi, film drama, film komedi, fim keluarga, film petualangan, ataupun penghangat hati di kala sepi, saya jelas-jelas akan selalu merekomendasikan film ini. Dengan kesederhanaannya, Tokyo Godfathers telah menjadi sebuah film yang lengkap memenuhi hati kita dengan kehangatannya.

The Last Airbender

Mendapat rating 8% (Rotten Tomatoes) di hari perdana perilisan filmnya, mungkin tidak akan pernah menjadi urusan mudah untuk filmmaker manapun. M. Night Shyamalan lah yang kali ini harus menjadi korbannya. Nama M. Night Shyamalan dikenal dengan film Sixth Sense (1999) yang menuai pujian. Tetapi sungguh sayang karirnya kemudian harus dipertanyakan dengan film The Last Airbender dan disandingkan dengan film seperti Dragon Ball: Evolution (2009). Semenjak mengetahui film Dragon Ball akan difilmkan, saya sudah punya firasat bahwa hasilnya tidak akan terlalu istimewa. Karena media visual film tidak akan mampu menyamai versi komiknya yang lagendaris. Berbeda 180° dari pengharapan saya akan Dragon Ball, saya justru menaruh harapan besar dengan kehadiran The Last Airbender. Semenjak trailer-nya dirilis beberapa bulan yang lalu, saya menanti-nanti akan seperti apa film yang diadaptasi dari TV series keluaran Nickelodeon ini. Trailernya mengundang, jujur saja. Tetapi menyaksikan The Last Airbender di layar besar memang tidak lebih dari penyiksaan selama kurang lebih 100 menit.

Filmnya sendiri dimulai dengan sebuah narasi yang menceritakan bahwa terdapat 4 negara yang berasal dari 4 elemen (air, api, tanah, dan angin) yang dulunya hidup dalam harmoni. Tetapi setelah hilangnya Avatar yaitu pengendali 4 elemen tersebut dan dipercaya mampu membawa kedamaian dunia 100 tahun yang lalu, Negara Api mulai berusaha melakukan invasi untuk menguasai dunia. Setelah itu, kisahnya berlanjut tentang dua kakak adik, Katara (Nicola Peltz) dan Sokka (Jackson Rathbone) yang secara ‘tidak sengaja’ menemukan seorang anak aneh di bawah es. Anak inilah yang kemudian dipercaya sebagai Avatar. Ketiganya pun melakukan perjalanan untuk membuat Aang (Noah Ringer) menjadi Avatar yang sesungguhnya.

Alur cerita filmnya persis sama seperti film kartunnya, SAMA PERSIS malah. The Last Airbender direncanakan dibuat sebagai trilogi yang masing-masing filmnya akan didasarkan pada Book yang ada di film kartunnya, yaitu Water, Earth, dan Fire. Menonton film yang berdasar pada Book Water ini, sekali lagi, SAMA PERSIS seperti menonton satu season film kartunnya. Entahlah, saya merasa Shyamalan malas membuat alur cerita baru untuk filmnya ini. The Last Airbender seperti menyingkat ke-20 episode season pertamanya untuk diringkas menjadi 100 menit yang, kembali saya katakan, dibuat seperti penyiksaan untuk para penontonnya. Dialognya kosong sama sekali, apalagi pelafalan oleh para tokohnya yang kelihatan seperti ‘sekedar’ membaca teks. Akting para pemainnya tidak membuat saya merasa sedang menyaksikan film Hollywood dan malah memuji sinetron yang biasa diputar di SCTV. Michael Dante DiMartino dan Bryan Konietzko, sang pembuat asli film kartunnya harusnya bisa menangis menyaksikan film ini malah berakhir dengan rating rendah yang menyedihkan.

Sayang sungguh sayang, seharusnya film ini mempunyai modal cerita yang kuat luar biasa. Dasar cerita pengendalian elemen di cerita aslinya Avatar: The Last Airbender sungguh sakral dan menarik untuk diulik. Penokohan masing-masing karakternyapun kuat dan membuat kita simpatik untuk terus menonton lanjutan episodenya. Seperti penokohan Pangeran Zukko yang agak kompleks dan Sokka yang ‘seharusnya’ lucu. Aang yang periangpun di filmnya selalu terlihat takut, pusing, dan kurang makan di sepanjang film. Mungkin Ringer sendiri sudah merasakan ancaman yang buruk sepanjang pembuatan filmnya.

Beberapa orang mempertanyakan tentang pemilihan aktor yang tidak sesuai dengan ras asli para tokoh yang ada di kartunnya. Buat saya, justru saya menyukai pemilihan ras tersebut untuk beberapa Negara. Saya merasakan adanya pemikiran yang ‘lumayan’ dalam ketika ras India dipakai untuk menggambarkan Negara Api ataupun ras China yang menggambarkan para pengendali Tanah. Masalah saya memang cuma ada di pemilihan ras Aang, Katara, dan Sokka (yang sayangnya adalah ketiga pemeran utama) yang ternyata dipilih orang bule.

Dari segi pemanis film, saya bahkan tidak mampu berkata apa-apa. Scoring-nya terlalu aneh, sepi dan membingungkan. Saya merasa di bagian harusnya ada scoring malah krik krik dan terasa sepi, tetapi di bagian tidak penting film malah ditambahkan scoring jeng jeng yang tidak sesuai tempat. Pengambilan gambarnya tidak istimewa, dan saya kembali terpaksa harus membandingkannya dengan sinetron SCTV. Kembali disayangkan adalah keberadaan martial art yang dipampang sepanjang film. Keberadaannya terasa terlalu lambat dan sia-sia, padahal harusnya aksi ini kembali menjadi kunci penting untuk memperindah film ini. Masa setiap ada aksi pertarungan, si musuh harus menunggu seseorang selesai memperagakan aksi silatnya dulu untuk menyerang balik? Semuanya memang agak terasa kurang logis.

Kalaupun ada hal yang harus saya puji dari film ini mungkin adalah keberanian M. Night Shyamalan untuk melanjutkan trilogi film ini nantinya. Ataupun aksi CGI-nya yang sebenarnya bagus tetapi tidak mendapat porsi yang baik karena dari awal cerita, M. Night Shyamalan tidak menggunakan CGI ini sebagai daya tarik utama. Padahal keberadaan CGI seharusnya mampu mendongkrak alur cerita film ini dengan aksi kemampuan bending para tokoh di dunia itu. Pada akhirnya, saya tidak menyarankan Anda untuk menonton film ini, lebih baik setel saja Global TV setiap pagi jika ingin mengetahui cerita Avatar: The Last Airbender yang luar biasa bagus. M. Night Shyamalan mungkin sedang mengantuk ketika menulis dan mensutradarai The Last Airbender. Oh ya, untuk Dev Patel, saya lebih menyarankan Anda untuk terus bermain Who Wants to be A Millionaire dibanding bermain api dan memakai topeng aneh.

The Simpsons

Masih teringat di kepala saya, ketika SD menunggu tayangan ini di sore hari, tepat setelah Saint Seiya diputar. Beberapa waktu setelahnya, jadwal putarnya dipindah ke malam hari dan saya masih tetap setia menanti kehadiran The Simpsons. Lahir dari tangan seorang komikus, Matt Groening, ia menamakan karakter The Simpsons dengan nama-nama anggota keluarganya sendiri (ia mengganti namanya sendiri dengan Bart). The Simpsons adalah tipikal kartun Amerika yang sarat violence dan kata-kata kasar. Seperti Bart yang suka menertawakan kebodohan ayahnya sendiri—Homer, ataupun humor tidak lucu yang selalu dibawakan film serial kegemaran Springfield, Itchy and Scratchy. Bahkan kadang saya berpikir, di mana pesan moral serial ini. Tapi toh, saya masih tetap tersangkut di serial ini.

Ah, ceritanya sendiri siapa yang tidak tahu. The Simpsons, seperti judulnya, berkisar tentang cerita-cerita abnormal keluarga Simpsons, yang terdiri dari sang ayah Homer (Dan Castellaneta), istrinya Marge (Julie Kavnner), dan ketiga anaknya Bart (Nancy Cartwright), Lisa (Yeardley Smith), dan Maggie (Nancy Cartwright). Homer, seperti yang kita semua tahu, bodoh keterlaluan, jahat, iri dan dengki. Menjadikan Springfield sebagai rumah bagi kejadian-kejadian ajaib yang melibatkan The Simpsons dan banyak tokoh-tokoh figurannya. Hal ini pula yang merupakan kelebihan dari serial yang sudah bertahan selama 21 season ini. Apa jadinya The Simpsons tanpa seluruh isi Springfield yang super aneh, Mr Burns yang kaya (dan tak punya hati) dan asistennya Smithers, tetangga Homer yang super baik dan sabar, The Flanders, pemilik bar Moe, teman Homer Lenny dan lebih dari ratusan penghuni Springfield yang telah membuat kota rekaan ini menjadi empire besar yang kedetilannya mungkin setara dengan Gotham City tempat Bruce Wayne tinggal.

Kelebihan lain serial ini adalah detil yang ditampilkan secara konsisten di setiap episodenya lewat opening sequence-nya yang dibuat berbeda setiap kali. Anda akan menanti-nanti tulisan apa yang akan ditulis Bart di papan tulis, lagu yang akan dimainkan Lisa, ataupun humor konyol yang ada ketika keluarga Simpsons bertemu di sofa depan TV. Oh, kalau ada yang sadar juga, di opening-nya, Maggie di-label dengan harga $ 847.63. Angka ini merupakan hasil penelitian yang merupakan biaya yang harus dikeluarkan sebuah keluarga untuk membesarkan seorang bayi setiap bulannya di Amerika. The Simpsons juga terkenal dengan penampilan para selebritisnya. Padahal para selebritis ini, termasuk di antaranya Elton John, Andre Agassi, Mick Jagger, bahkan Metallica, kadang hanya muncul secuil di serial ini. Di The Simpsons movie, bahkan Green Day (salah satu band kesukaan saya) dan Arnold Schwarzenegger muncul sebagai cameo. Baru-baru ini juga, iklan Nike terbaru untuk Piala Dunia 2010, Write the Future, menampilkan Homer dan Cristiano Ronaldo versi Simpsons.

Pertama kali menyempil sebagai sebuah tayangan pendek selama 30 detik di The Tracey Ullman Show (pada tahun 1987), The Simpsons telah memiliki lebih dari 400 episode sampai sekarang. Pertama kali mengudara pada tanggal 17 Desember 1989, The Simpsons telah meraih 24 penghargaan Emmy Awards diantaranya adalah 12 penghargaan Outstanding Voice-Over Performance, 10 penghargaan Outstanding Animated Program dan 2 penghargaan Outstanding Main Title Theme Music. Serial ini juga dinobatkan sebagai Best TV Series of Century (untuk abad 20) versi majalah Time, dan memperoleh tempat di Hollywood Walk of Fame di tahun 2000. The Simpsons merupakan film kartun pertama yang ditayangkan secara primetime sejak serial The Flintstones, yang kemudian diikuti dengan kesuksesan serial kartun tahun 1990-an, seperti South Park, King of the Hill dan Family Guy yang juga diputar mengikuti jadwal prime time. Bahkan serial South Park (yang tidak kalah sarkastik ini) membuat penghargaan kepada The Simpsons lewat episodenya yang berjudul “Simpsons Already Did It”.

Tahun 2007, The Simpsons menggebrak dengan film layar lebarnya. Yang trailernya merupakan salah satu trailer terbaik yang pernah saya lihat. Kalimat pembukanya berkata, “In a time when computer animation bring us world of unsurpassed beauty, one film dares to be ugly. The Simpsons Movie, in 2-D!”. Ya, mereka bangga menjadi kuning dan datar. Isu yang diangkat di film ini luar biasa “penting” yang disajikan dengan caranya sendiri, global warming. Di film inipun, Homer tetap bodoh dan humor yang ditampilkan luar biasa jenius. Versi layar lebar The Simpsons telah direncanakan dari tahun 1990, melewati lebih dari sedekade untuk berhasil diwujudkan, dan menghasilkan lebih dari 200 draft skenario yang dianggap ‘kurang bagus’ dan ‘tidak sesuai’. The Simpsons movie akhirnya meraih rating 7.6 di IMDB dan 89% di RottenTomatoes.

Berbagai pihak turut merayakan kemunculan The Simpsons movie. Salah satu franchise burger paling terkenal Burger King mempopulerkan “SimpsonizedMe”, sebuah permainan interaktif di mana kita bisa membuat karakter ala Simpsons dengan hanya memasukkan sebuah foto. Burger King juga membuat burger favorit warga Springfield, Krusty Burger dan membuat iklan yang menampilkan Homer yang ingin memakan Whoppers (menu andalan Burger King). Sebuah brand convenience store, 7/11 bahkan mengubah tampilan tokonya menjadi mirip dengan toko Kwiki-E Mart milik Apu.

Setelah semua itu, The Simpsons masih punya para pengikut setia. Komedi satir yang kadang menyerempat sisi politik, lingkungan hidup dan situasi kehidupan di Amerika, ini telah berubah menjadi fenomena global yang telah bertahan selama hampir 2 dekade. The Simpsons telah banyak menuai kontroversi, mulai dari beberapa orang tua yang menganggap Bart adalah contoh buruk bagi anak-anaknya ataupun berbagai buku yang berisi tentang pengaruh serial ini terhadap psikologi. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa The Simpsons telah mempengaruhi banyak aspek kehidupan kita. Penggunaan-penggunaan catchphrase seperti “D’oh!” milik Homer ataupun istilah Bart “Aye, Caramba!” atau “Eat my shorts!” telah melegenda dan melebur di masyarakat. The Simpsons telah menggambarkan dengan baik kehidupan keluarga di Amerika dengan ke-dysfunctional-annya. Tak heran bahwa serial ini kemudian disebut-sebut sebagai The First Family of Animation dan masih terus menjadi TV serial kesayangan warga Amerika.

Homer: Sometimes I think we’re the worst family in town.
Marge: Maybe we should move to a bigger community.
Lisa: Dad, the sad truth is, all families are like this.

Fun Facts:

– Pada tahun 2001, kata “D’oh!” yang diucapkan Homer akhirnya dimasukkan ke Oxford Dictionary yang diartikan sebagai “Expressing frustration at the realization that things have turned out badly or not as planned, or that one has just said or done something foolish”.

– Menurut sebuah artikel yang ditulis oleh Alyson Grala dari License! Global bertajuk “Salute to The Simpsons”, kehebatan branding serial ini telah menghasilkan $ 5 milyar setiap tahunnya untuk royalti penggunaan brand The Simpsons.

– Para pengisi suara serial ini bahkan digaji hampir $ 400.000 untuk tiap episodenya.

– Di tahun 2009, untuk merayakan 20 tahun kehadiran serial ini, seorang penggemar fanatik The Simpsons, Mr Stott mencoba menorehkan namanya di Guinness Book of Records dengan menonton 451 episodenya tanpa tidur sekalipun. Ia hanya diberi kesempatan beristirahat selama kurang lebih 20 menit setiap menonton 3 episode. Ia harus memastikan matanya terus menempel ke TV, sehingga iapun tidak diperbolehkan melihat piring ketika makan.