Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2011

The Green Hornet

The Green Hornet is Having Fun to Extinguish Crime, Michel Gondry is Having Fun to Experiment with Superhero Movie

Jujur saja, saya pertama kali melihat trailer The Green Hornet di TV (bukan internet). Saya tidak berusaha mencari tahu tentang film ini sebelumnya dan untuk setelahnya tertarik ketika melihat nama-nama yang terpajang di posternya di bioskop. Michel Gondry is one of my favorite director of all time. Jadi saya merasa berkewajiban menonton film ini. Setelah itu terpasang nama Seth Rogen (Superbad, Zack and Miri Make a Porno), spesialis muka datar dan gaya bicara kereta api ketika melontarkan kalimat lelucon yang sarat makna. Lebihnya lagi, Rogen kembali berkolaborasi dengan Evan Goldberg (seperti halnya dengan Superbad dan Pineapple Express) untuk menulis script film ini. Setelah itu terpampang nama Jay Chou, artis Taiwan yang namanya pernah booming di zaman F4 merajalela. Sayapun bermain-main untuk menyaksikan film ini.

The Green Hornet berangkat dari sebuah sandiwara radio ciptaan George W. Trendle dan Fran Strike di tahun 1936. Setelahnya The Green Hornet merambah ke TV Serial dan komik di tahun 1940. Ceritanya sendiri berkisar tentang Britt Reid (Seth Rogen). Konglomerat, playboy, haus publisitas. Intinya, dia tipikal pemuda bego yang pada awal film horror terbunuh duluan karena khilaf menginjak kuburan si setan. Ayah Britt, adalah James Reid (Tom Wilkinson), pemilik percetakan koran terbesar bernama The Daily Sentinel yang dikenal karena idealismenya tentang penerbitan berita. James Reid sendiri dikenal bertangan dingin dan super idealis. Tapi sayangnya, memori itu tidak tertanam dalam diri Britt. Baginya, ayahnya hanya seorang orang tua dingin yang mencopot kepala mainan kesayangannya dan membuangnya di tempat sampah. Berawal dari hilangnya cita rasa dan hiasan daun di kopi paginya, Britt berkenalan dengan Kato (Jay Chou). Super jenius, jago berkelahi, dan punya (entah apa namanya, tapi bukan kekuatan super) kemampuan untuk bergerak lebih cepat ketika jantungnya berdetak lebih kencang. Kato dan Britt menemukan kecocokan ketika keduanya menemukan kesenangan dalam memberantas kejahatan (setelah sebelumnya dengan vandal merusak patung peninggalan James Reid dengan mencopot kepala patung perunggu tersebut).

Dengan kekuasaannya sebagai pewaris perusahaan koran, Britt (dan Kato) meraih publisitas dengan menamakan dirinya The Green Hornet (dan supirnya). Berperan sebagai superhero yang berkedok penjahat, mereka membagi-bagikan kartu nama dan alamat e-mail kepada para penjahat yang dibasminya. Pada akhirnya, kartu nama tersebut sampai kepada penguasa kejahatan di kota tersebut, Chudnofski (Christoph Waltz), yang kemudian di akhir cerita tertantang mengganti namanya menjadi Bloodnofski melihat ketenaran The Green Hornet.

Agak aneh memang ketika mendengar Gondry membuat film superhero. Oke, dia berhasil membuat film cinta surealis luar biasa terngiang berjudul Eternal Sunshine of the Spotless Mind dan berhasil membuat komedi tentang video a la mode dengan latar Passaic yang disebut sebagia kota kelahiran Jazz, berjudul Be Kind Rewind. Tapi kali ini, filmnya SUPERHERO. Ya, saya dan Anda tidak salah dengar. Seperti saya yang menonton film ini bermula dengan main-main, ataupun Britt dan Kato yang bermain-main menumpas kejahatan, Michel Gondry mungkin sedang bermain-main di film terbarunya ini. Tapi ini Michel Gondry kan? Ya, dan sentuhan magisnya masih terasa. Walaupun Rotten Tomatoes hanya memberinya rating 45%, saya malahan akan merekomendasikan film ini.

Deretan castnya luar biasa. Rogen, seperti deskripsi saya di atas, sungguh luwes mengucapkan kalimat-kalimatnya di sepanjang film. Intonasinya sungguh baik, walaupun aktingnya seperti sama saja dengan film-filmnya sebelumnya. Jay Chou, bermain meyakinkan. Bahasa inggrisnya patah-patah, sungguh mencerminkan orang Asia yang bermain di Hollywood (hal yang tidak terjadi pada Lucy Liu dan Rain). Sayang Cameron Diaz yang berperan sebagai Lenore Case hanya menjadi pajangan yang menarik, sehingga setidaknya ada tokoh wanita di sana. Waltz, kembali bermain watak, ia tampak bodoh, menggelikan, dan di sisi lain—‘sakit’. Anda harus menyaksikannya sendiri.

Editingnya rapi dan menarik, akan tetapi saya tidak menyarankan Anda untuk menonton 3D-nya. Aksi yang ada seru dan menegangkan, tetapi tidak terlalu istimewa untuk dijadikan versi 3-D. Warna yang dipakai juga tidak cukup banyak, sehingga The Green Hornet masih layak untuk ditonton di versi 2-D.

Lepas dari semua itu, saya sadar kenapa rating untuk The Green Hornet berada di garis batas. Kalimat-kalimat yang dipakai Rogen, walaupun sungguh witty dan cerdas, porsinya terlalu banyak sehingga beberapa berubah hambar. Beberapa adegan juga berdurasi terlalu lama, yang paling saya sadari adalah ketika adegan perkelahian Brit dan Kato yang the-so-called-bromance atmosphere-nya membekas tetapi menjadi boooring~ karena durasinya. Beberapa adegan perkelahian lain justru berlangsung terlalu cepat sehingga kadang saya bingung dengan apa yang ingin disampaikan oleh film ini.

Yang saya yakini, film ini memang film komedi. Dia hanya memakai latar belakang superhero dan disutradarai oleh Gondry, sutradara kesayangan para pecinta film (so-called) sidestream. Sehingga sungguh sulit untuk menilai film ini dengan standar film superhero. Tetapi sebagai film komedi, The Green Hornet berhasil memancing tawa sekaligus membuat ketegangan dalam adegan aksinya. Jika menganalogikannya dengan makanan. The Green Hornet bukan tipikal film superhero yang menjadi roast turkey, seperti Spiderman dan Iron Man, ia tidak berdiri sebagai premium steak, seperti The Dark Knight. Anehnya, film ini menjelma sebagai potato chip yang duduk di pinggiran. Hanya side dish, yang kelebihan lemak, tetapi ringan dan licin tandas karena disukai pengunjung.

Read Full Post »