Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2010

Pertama kali keluar di tahun 1997, tidak dapat dipungkiri bahwa novel Harry Potter telah mencuri hati kita semua. Bertahun-tahun kemudian di tahun 2007, buku terakhir dari seri ini keluar dan membuat para die hard fans-nya mampu berdiri berjam-jam untuk menunggu keluarnya buku yang telah terjual sebanyak 11 juta kopi di hari perdana penjualannya. Kemudian, babak baru dari seri ini terwujud ketika pada tahun 2001, Warner Bros mengambil alih salah satu franchise terbesar yang mungkin ada di dunia. Chris Columbus (Home Alone, Rent, Percy Jackson and the Lightning Thief) adalah sang sutradara yang beruntung (menyingkirkan Stephen Spielberg dan Terry Gilliam) untuk menciptakan keajaiban dari Harry Potter and The Sorcerer’s Stone menjadi nyata. Film kedua, ketiga, dan keempatnya, Harry Potter and the Chamber of Secret dan Harry Potter and The Prisoner’s of Azkaban, dan berturut-turut keluar di tahun 2004-2005. Sutradara Alfonso Cuarón dan Mike Newell didaulat menggantikan Columbus di film ketiga dan keempat. Di tahun 2007, film kelimanya yang berjudul Harry Potter and The Order of the Phoenix akhirnya sampai pada tangan David Yates. Yates dengan magisnya berhasil menciptakan kekelaman pada film ini dan hal tersebut disusul dengan film keenamnya, Harry Potter and the Half-Blood Prince. Suasana drama dan atmosfer gelap mengukuhkan Yates untuk kembali menyutradrai instalasi terakhir dari seri ini.

Harry Potter and the Deathly Hallows dibagi menjadi dua bagian, yang membuat saya yakin bahwa kehadiran film ini tidak terkesan mengejar uang, tetapi mengejar keutuhan cerita. Bagian keduanya akan keluar pada Mei 2011 dan saya jamin akan membuat para die hard fansnya kembali berdebar-debar menunggu kehadirannya.

Saya tidak akan membahas soal cerita kepada Anda. Sudah cukup banyak review yang beredar di luaran soal ceritanya, jadi pasti Anda tidak kesulitan mendapatkannya. Pada bagian pertamanya ini, saya kembali ingin menyalami Yates dan berterima kasih atas segala hal yang dilakukannya dengan film ini. Jika Anda pembaca bukunya, bagian awal ceritanya memang hanya berputar tentang pencarian Horcrux dan (mungkin) pencarian jati diri untuk ketiga tokoh utama kita ini. Di hutan-hutan terdalam, mereka berjalan entah kemana. Sepintas memang terdengar membosankan, karena hidup mereka hanya berpusat pada pembicaraan tentang Horcrux, penemuan baru Hermione atas Horcrux, malam datang, ketiganya memasang mantra dan tenda, begitu berulang-ulang. Tetapi Yates berhasil membuatnya tidak membosankan dan entah kenapa, saya suka bagian ketika Harry mengajak Hermione berdansa diiringi musik dari radio. Somehow, adegan itu membuat saya merasa karakter mereka menjadi manusiawi. Ya mereka penyihir dan mereka akan menghadapi sang Dark Lord dengan peliharaan ular besar, lalu kenapa? Mereka pada dasarnya hanya anak-anak muda yang juga berkutat dengan masalah percintaannya masing-masing. Adegan tersebut dengan baiknya menerjemahkan pernyataan tersebut dengan baik. Dan dengan semudah itulah saya jatuh cinta dengan Harry Potter and the Deathly Hallows part 1.

Adegan-adegannya seru dan menegangkan, kelam dan mencekam. Pemotongan ending bagian pertamanya juga tidak mengecewakan. Terasa pas dan memuaskan. Bagi para penggemar barunya (yang tidak menonton film-film sebelumnya maupun membaca bukunnya), film ini saya kira mampu menjaring target penonton tersebut. Karena ketegangan yang dihasilkan setelah menonton film ini membuat saya sendiri ingin menyaksikan kembali keenam instalasi sebelumnya. Walaupun saya berani bilang, instalasi ketujuh ini mampu membuat film-film pendahulunya menjadi biasa saja.

Tetapi ada satu adegan yang menurut saya merusak jalinan ceritanya, yaitu adegan Ron menghancurkan locket milik Salazar Slytherin. Adegan bayangan Hermione dan Harry yang berciuman memang terjadi di bukunya, tetapi entah mengapa ketika adegannya ditampilkan tanpa busana membuat saya agak sedikit kesal. Saya tahu sejak menginjak film kelima (atau bahkan keempat), suasana yang ditampilkan menggelap serta target penontonnya telah berganti menjadi remaja. Tetapi entah kenapa hanya hal itu saja yang menganggu saya di sepanjang film.

Pada akhirnya, jika porsi action dan drama yang tidak berimbang ada di instalasi keenamnya telah diperbaiki di filmnya yang ketujuh. Kedua porsi tersebut ditata rapi dan tidak berlebihan, memberikan sebuah awal dari penutup yang baik untuk novel terlaris sepanjang sejarah ini.

Advertisements

Read Full Post »

Dreamworks kembali dengan salah satu film kartun terbarunya berjudul Megamind. Tagline film ini “The Superhero Movie Will Never Be The Same”. Menarik dan memancing menurut saya, walaupun pemilihan kalimatnya terdengar klise. Dreamworks memang jagoan membuat karakter yang menarik, tetapi tidak terlalu beruntung untuk membuat film kartun yang baik. Segmen pembuatan filmnya mungkin tepat, hiburan dan anak-anak. Tapi entah mengapa, saya merasa bosan dengan formulanya yang standar.

.

Dreamworks memperkenalkan kita kepada sang tokoh superhero yang jauh dari stereotype yang ada. Namanya adalah Megamind (Will Farrel), ia berkepala besar mirip E.T dan berwarna biru. Dreamworks telah berhasil dengan formula ini sebelumnya. Di mana sang jagoan utama bukanlah pangeran tampan berkuda putih, ataupun Panda lucu berperut gendut. Tentu Anda masih ingat Shrek (2001), si ogre berwarna hijau yang jorok dan tak tampang ganteng. Tapi toh film kartun ini masih bertengger menjadikan dirinya sebagai film kartun terlaris Dreamworks. Kembali pada tokoh jagoan kita Megamind, ia tidak protagonis. Diceritakan pada awal film, kemalangan terus menimpanya sehingga ia dibenci dan dianggap pembuat onar. Ia selalu kalah oleh Metro Man (Brad Pitt), yang disebutnya sebagai Mr Goody-Two-Shoes. Megamind pun kemudian tumbuh menjadi seorang kriminal, antagonis super yang berniat mengalahkan Metro Man dan mengambil alih Metro City, tempat keduanya tinggal. Ketika pada akhirnya Metro Man berhasil dikalahkannya, Megamind mulai bingung apa tujuan hidupnya lagi. Akhirnya, demi mendapatkan wanita pujaan hatinya, Roxanne Ritchi (Tina Fey), ia menciptakan superhero baru untuk menjadikannya tandingan untuk terus membuatnya punya tujuan hidup.

 

 

Filmnya menghibur, lucu dan menggemaskan. Tetapi sesudah menonton, tidak ada yang terbawa pulang. Hal ini berbeda dengan saat saya menonton How to Train Your Dragon (2010), film super keren yang dikeluarkan Dreamworks sebelumnya. How to Train Your Dragon punya script dan dialog yang bagus juga twist ending yang baik sehingga membuat kita mampu membicarakan tentang filmnya sampai beberapa hari setelahnya. Tetapi Dreamworks tidak berhasil membuat hal tersebut dengan Megamind. Saya dengan mudah melupakan film ini dan menuliskan reviewnya hampir beberapa minggu setelah menontonnya.

.

Penyebabnya mungkin alur ceritanya yang kurang baik. Twist yang ditampilkan ketika Megamind harus bertarung dengan inner self-nya yang sebenarnya protagonist memang sudah baik, tetapi entah mengapa gampang ditebak. Padahal para pengisi suaranya sangat menjual, lihat saja. Will Ferrell, Tina Fey, Brad Pitt, dan Jonah Hill. Semuanya artis papan atas, dan tidak dipungkiri hasil pekerjaan mereka memuaskan. Tetap saja, masih ada sesuatu yang terasa kurang di film ini.

 

Saya tidak mengatakan Megamind film yang gagal, sudah saya bilang filmnya menghibur. Tetapi impact yang dihasilkannya tidak besar dan hanya terlihat standar dengan film-film kartun lain. Ternyata, karakter yang menarik dan pengisi suara yang terkenal memang belum cukup untuk membuat sebuah film kartun yang menarik.

Read Full Post »

HOSTEL

Dua orang pemuda Amerika, Paxton (Jay Hernandez) dan Josh (Derek Richardson) bertemu dengan seorang Islandia, Oli (Eyþór Guðjónsson), dalam liburan mereka di Eropa. Keduanya pun mengalami liburan yang memang sulit dilupakan. Mengejar hisapan ganja dan seks gratis, merekapun mendapatakannya dengan mudah. Cerita bergulir ketika, seorang informan bernama Alexei (Lubomir Bukovy), menyarankan mereka untuk pergi ke Bratislava di pinggiran Slovakia. Surga bagi para pecinta seks dan judi, yang dikatakan merupakan gudang para wanita terbaik. Pertemuan mereka dengan para gadis di sebuah hostel yang bernama Russian Natalya (Barbara Nedeljakova) dan Czech Svetlana (Jana Kaderabkova) kemudian menuntun mereka ke sebuah rangkaian kejadian yang menyayat-nyayat nyali. Ketika Oli bersama seorang gadis Jepang bernama Yuki yang ditemuinya tidak kembali ke kamar Hostel mereka, Paxton dan Josh mulai menyadari ada yang tidak beres di kota itu. Tanpa sadar, merekapun menjadi salah satu korban sebuah perkumpulan “tidak beres” yang bertempat di kota tersebut.

 

Ditulis dan disutradarai sendiri oleh Eli Roth, Hostel mendudukkan dirinya sebagai salah satu film thriller super ngeri menurut saya. Kalau Anda tidak kenal siapa Eli Roth, dia adalah sang pemeran Donny Donowitz atau The Bear Jew yang bermain dalam Inglourious Basterds arahan Quentin Tarantino. Dalam Hostel, Tarantino jugalah yang menjadi produser film ini. Hostel merupakan film yang dibuat dengan budget rendah tetapi menuai kesuksesan dengan pendapatan kotor yang berlipat ganda. Ditaksir dengan pengeluaran sekitar $ 4 juta, Hostel berhasil meraih pendapatan kotor sekitar $ 80 juta dan $ 180 dari penjualan DVD. Jean Francois Raugier dari French Cinematheque bahkan menobatkan Hostel sebagai Best Film of the Decade dalam Film Comment Magazine edisi Januari 2010. Hostel part II yang juga disutradarai oleh Roth keluar di tahun 2007, tetapi filmnya muncul duluan di internet sebelum filmnya dirilis, sehingga kesuksesan Hostel tidak dicapai oleh sekuelnya ini.

 

Untuk para pembenci film yang sarat dengan nudity, kekerasan, dan darah, saya sarankan jangan repot-repot memaksa menyaksikan film ini. Karena ketiga hal itulah yang menjadi menu utama dalam Hostel.

 

Dalam film berdurasi sekitar 90 menit ini, penonton dibawa perlahan menuju inti film yang sesungguhnya. Saya bisa katakan, 1/3 bagian pertama penuh dengan adegan-adegan nudity dan seks, 1/3 bagian selanjutnya mengantar kita ke turning point film ini untuk menyaksikan klimaks apa yang sebenarnya ingin dipaparkan oleh film ini. 30 menit selanjutnya adalah siksaan (secara harfiah dan simbolis). 30 menit akhir bagian film ini dijamin membuat Anda berteriak, menutup mata, merasakan kengerian dan horor yang mutlak. Darah dan organ tubuh menjadi hidangan segar yang tidak pernah berhenti disajikan selama waktu 30 menit tersebut.

 

Sound effect dalam film thriller merupakan salah satu elemen penting yang mutlak ada. Dalam Hostel, pembubuhan sound effect-nya luar biasa dan mampu membuat jantung saya berdegup kencang dengan keberadaannya di sepanjang film. Apalagi adegan-adegan akhir saat Paxton berada di gedung tua di 30 menit terakhir.

 

Segi ke-thriller-an film ini maksimal, mungkin setingkat di bawah Cannibal Holocaust (1980). Sebenarnya, saya tidak menggemari genre film ini, tetapi setelah menyaksikan penurunan kualitas film thriller franchise SAW (yang baru saja mengeluarkan SAW 3D), tidak afdol rasanya untuk melewatkan Hostel. Selain jenis penonton yang telah saya peringkatkan dengan garis bawah di atas, saya merekomendasikan Anda untuk menonton film ini. Apalagi untuk ditonton bersama teman-teman, karena dijamin seru dan memancing teriakan. Satu hal yang membuat Hostel mengukuhkan dirinya menjadi salah satu film thriller terbaik adalah karena selain menjual adegan-adegan sadisnya, Hostel menjual segi kelogisan di dalam ceritanya. Hal yang kadang dilupakan oleh para pembuat film thriller macam ini.

Read Full Post »