Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2010

Beberapa tahun yang lalu, saya tidak pernah berpikir untuk menulis review film. Saya memang tergila-gila untuk membuat film, tetapi untuk berkomentar dan menuliskannya, saya merasa tidak pantas. Sampai sekarangpun tetap begitu, walaupun saya sudah punya blog review film sendiri. Saya masih merasa tidak pantas, dan kadang merasa gaya menulis saya masih biasa-biasa saja. Tapi orang bilang yang penting pede, makanya saya masih melanjutkan menulis review yang biasa-biasa saja itu. Makanya saya tidak pernah berani untuk memberikan bintang atau angka untuk sebuah film, karena saya masih belum bisa menetapkan acuan saya.

Saya ingat satu-satunya website yang menjadi kitab suci saya tentang film adalah RumahFilm dengan Eric Sasono dan Hikmat Darmawan sebagai penulis favorit saya. Situs yang memberangkatkan para redakturnya ke Cannes untuk meliput. Saya ingat betul bagaimana dengan naifnya saya memulai menulis review pertama saya—Iron Man—summer movies pertama yang keluar tahun 2008. Sayapun mencoba membandingkannya dengan beberapa review milik kritikus di luar sana, New York Times, RottenTomatoes, Roger Ebert, ah gaya kritik saya mirip-mirip. Mereka memuji akting Robert Downey, saya juga. Mereka menyebut tentang adegan laga yang tidak berlebihan, saya juga. Tetapi mulut saya ternganga membaca resensi di RumahFilm. Judul filmnya sama, ceritanya pasti juga sama, tapi kedalaman berpikir dan ide yang dibawa resensi ini sungguh cerkas. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan ulasan saya yang tampak standar. Eric Sasono memang dewa.

Setahun kemudian, saya menikmati Sinema Indonesia. Blog review milik dua reviewer Indonesia selayaknya Roeper & Ebert, dan punya gaya bercerita ala Perez Hilton. Menjatuhkan film yang seharusnya dijatuhkan, film-film Indonesia kelas tiga dengan banyak setan, baju minim, humor tidak lucu dan belahan dada kemana-mana. Film-film yang (menurut saya) tidak selayaknya tampil di layar lebar dengan omset sebesar itu. Mereka menyebut film-film kampungan Indonesia dengan sebutan ‘kancut’, yang kemudian menjadi kata acuan di kitab suci makian film Indonesia. Sama kerennya dengan kata ‘akika’ di kamus gaul Debby Sahertian. Sayangnya website ini tidak melanjutkan makian-makiannya yang fenomenal itu, dan nampaknya saya harus mencari website langganan baru.

Lalu, dalam kurun waktu dua tahun, saya menyaksikan bertambahnya situs/blog review film milik anak muda bangsa. Satu yang mungkin paling populer mungkin GilaSinema dan Labirin Film, blog keduanya bercerita tentang film dengan rapih dan komplit. Nampaknya, ia siap menjadi fashion tren yang siap di-follow—meminjam bahasa gaulnya anak muda sekarang—bagi para pencinta film. Setelah itu, berjamurlah blog-blog review dengan gaya menulisnya masing-masing, ada yang bercerita tentang pengalamannya menonton (VampiBots, sayabilangfilm), ada yang berfokus pada genre yang mereka kagumi saja (Horror Popcorn), ada yang membuat portal situs (Movietei), ada yang berbincang dalam forum (BicaraFilm). Tetapi semuanya mengarah pada hal yang sama, budaya apresiasi terhadap film.

Roger Ebert pernah menulis sebuah artikel tentang Golden Age of Movie Critic, dan mungkin sekaranglah saatnya. Di artikelnya itu ia menulis tentang pekerjaan (mungkin lebih tepat disebut profesi) sebagai kritikus tidak mendatangkan uang, tetapi semua orang melakukannya karena mereka memang murni menikmati menulis kritik.

Kalau Amerika punya EbertFest yang juga mempertemukan para kritikus film paling masyur di bidangnya. Mungkin suatu saat, Indonesia akan punya event yang sama. Setelah para blogger mengadakan event kopi darat terbesar bernama Pesta Blogger, harusnya impian seperti ini tidak akan sulit untuk terwujud.

Advertisements

Read Full Post »

Iron Man 2 (2010)

Saya ingat pertama kali saya menulis review film, Iron Man adalah filmnya. Summer movies pertama yang saya tonton dua tahun lalu. Di sinilah saya, 30 April 2010, menonton sekuel Iron Man 2, tanpa embel-embel. Sekuel selalu mengundang rasa kekhawatiran, karena film sekuel tentu saja punya pembanding yang jelas. Film pendahulunya akan dijadikan referensi utama ketika semua orang menulis review film sekuel. Film superhero dengan sekuel yang berhasil untuk saya baru ada dua, Spiderman dan Dark Knight. Well, third is the lucky number, Iron Man 2 simply completed the list.

Jon Favreau masih punya sentuhan magisnya, dengan suasana rock yang sama, Iron Man 2 kembali mengguncang saya. Untuk ceritanya, ah saya tidak akan bicara apa-apa. Lebih baik menontonnya sendiri, karena saya sudah menduga akan berteriak-teriak di kursi. Satu hal yang membuat saya suka dengan karakter Iron Man adalah, Tony Stark bukan tipikal superhero biasa yang bersembunyi di balik topeng atau kacamata tebal. Tony Stark adalah eksibisionis yang terlampau narsis. Ia malah mengumumkan pada dunia bahwa dia adalah superhero. Semenjak akhir film Iron Man, dengan kalimat penutupnya, “I am Iron Man”, Favreau memberikan ending terbaik yang pernah saya nonton. Karena emosi saya justru semakin meluap mendengar kalimat tersebut. Sehingga tentu saja sekuel Iron Man 2 menjadi film yang ditunggu-tunggu.

Lonjakan scenenya sungguh eksplosif. Walaupun ada beberapa adegan yang menurut saya terbuang dengan percuma, tapi semuanya tertutup dengan action scenenya maupun dialog-dialognya. Dari bagian dialognya, saya jujurnya suka sekali! Banyak early review yang menyayangkan bagian di mana banyak karakter yang berbicara secara bersamaan sehingga apa yang dibicarakan menjadi tidak jelas. Hal ini mungkin terjadi di bagian dialog Tony (Robert Downey Jr.) dan Pepper (Gwyneth Partlow) yang sering bertengkar. Tetapi, justru dengan keberadaannya dialog-dialog tersebut saya merasa bagian itulah yang memperkuat kewajaran dari film ini untuk bercerita kepada kita. Dialog-dialognya terasa wajar terdengar, dan semuanya dilafalkan dengan baik.

Dari akting, Robert Downey Jr dan Gwyneth Partlow tidak usah diragukan lagi, mereka masih berperan bagus seperti di Iron Man pertama. Jujurnya, saya masih lebih suka Terrence Howard untuk berperan sebagai Capt. Rhodey, tetapi toh Don Chadle juga bermain baik. Tetapi saya masih merasa dia masih tidak terlalu komikal untuk berperan sebagai tokoh adaptasi komik. Mickey Rourke keren sekali, berperan sebagai Ivan Vanko yang jenius. You’ve got to love this man! Mukanya jahat sekali, dan kerut-kerut di wajahnya membuat tokoh ini semakin terlihat jahat tulen. Keren! The Black Widow—Natalie Rummerson (Scarlett Johanson) memang berakting tidak terlalu istimewa, dan mungkin kehadirannya tidak terlalu berpengaruh di jalan ceritanya sendiri tapi dia cantik sekali, wuih! Kejutannya, Jon Favreau bermain di film ini sebagai Happy Hogan.

Untuk bagian action-nya, tidak usah bertanya-tanya lagi. War Machine doubles the fun! Film ini juga menunjukkan kalau adegan pertarungan dengan musuh utama yang singkat dapat diciptakan dengan baik jika pembangunan ceritanya baik dari awal. Anda tidak akan menemukan kekesalan yang sama seperti menonton Transformers 2 atau Clash of the Titans.

Dari sisi ceritanya, jujurnya memang Iron Man 2 masih kalah jauh dari film pendahulunya. Tetapi, banyak extra (Scarlett, Ivan Vanko, action yang keren) yang menyenangkan di film ini, sehingga saya masih dapat menikmati film ini dengan bahagia. Di sebelah saya banyak anak-anak kecil yang menonton, tapi saya justru masih lebih ribut dari mereka. Banyak adegan yang mampu membuat saya dengan mudah bertepuk tangan dan berteriak kegirangan. Nampaknya, Marvel secara sengaja tidak sengaja memasukkan banyak teaser untuk The Avenger di film ini, mulai dari shieldnya Captain America dan palu Thor. Yah, kita lihat saja apa maunya si Marvel ini ketika film-film tersebut rilis di 2 tahun mendatang. Pada akhirnya, saya merasa iri kenapa Tony Stark bisa sejenius itu, dan rasanya kita bisa membuat apa saja kalau kita pintar.

Recommended Consensus: Iron Man 2 still has a whole lot of pack of a superhero movie. Though there’s some flaw of the storyline, the excitement remains the same. The sensation still trembles your body, makes your heart race faster, and forces you to scream louder, “We want more!”.

Read Full Post »

Iron Man (2008)

Tulisan ini dibuat pada tahun 2008 dan sekaligus menjadi awal pertama kali saya menulis review film.

Adaptasi merupakan proses penyesuaian di mana suatu benda diolah agar cocok dengan keadaan yang lain. Proses ini ternyata berlaku juga untuk dunia perfilman. Konsep audio-visual yang ditawarkan oleh film telah mengisi kekosongan yang ada pada berbagai literatur. Bahkan media 2-D yang ditawarkan oleh komikpun dirasa kurang untuk mewujudkan suatu cerita. Berbagai titel komik telah diangkat ke layar lebar. Sebut saja Batman, Superman, Hulk, X-Men, Fantastic Four, dan lain-lain. Pada awal pembuatannya, komik dibuat dengan target pembaca anak-anak dan remaja Pada umumnya, target inilah yang juga ingin dicapai oleh adaptasi filmnya. Tren bergeser ketika Tim Burton men-direct Batman (1989) dan Batman Returns (1992). Atmosfer gelap khas Burton telah menyulap film ini menjadi pergulatan batin Bruce Wayne sebagai manusia daripada sekedar aksi penyelamatan kota Gotham dengan mobil super mahal.

Tapi rupanya, Burton tidak berhasil mengikat target penonton yang semula diharapkan karena problematika Batman yang dianggap terlalu dewasa. Hal ini berhasil diperbaiki oleh Sam Raimi dalam Spiderman (2002), yang menghadirkan karakter pemuda biasa yang dianugerahi kemampuan super untuk mengeluarkan jaring laba-laba. Bumbu drama dan romance yang diusung telah menarik bukan saja remaja dan anak-anak, tetapi juga para penonton dewasa.

Pola ini jugalah yang diusung oleh sutradara Jon Favreau dalam mengadaptasi Iron Man. Ia tidak saja membuat berbagai target usia tertarik dengan film ini, tetapi ia juga berhasil memuaskan para penggemar komiknya. Favreau menghadirkan apa yang paling ingin dilihat para penggemar Iron Man di layar lebar.

Iron Man bercerita tentang seorang pencipta senjata jenius dan pemilik Stark Industries, Tony Stark (Robert Downey Jr.). Hidupnya yang bergelimang harta dan dipenuhi oleh deretan wanita berubah ketika ia berkunjung ke Afghanistan untuk memperlihatkan kemampuan rudal terbaru ciptaannya. Ia diculik oleh sekelompok teroris dan diperintahkan untuk menciptakan sebuah rudal. Tetapi, ia malah menciptakan sebuah baju besi yang dilengkapi senjata untuk dapat melarikan diri dari kelompok teroris tersebut. Baju besi inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Iron Man. Di tempat itu jugalah, Tony bertemu dengan seorang seorang ilmuwan bernama Yensin. Kematian Yensin untuk membantu Tony melarikan diri inilah yang kemudian membuat perubahan besar dalam dirinya.

Downey menghadirkan sensasi yang berbeda dalam tokoh Tony Stark, aktingnya sangat meyakinkan. Ia tidak perlu mengeluarkan effort terlalu besar untuk membuat kita percaya bahwa dia adalah seorang superhero. Akting yang menawan juga disajikan oleh Gwyneth Paltrow sebagai Pepper Potts, asisten pribadi Stark yang sangat setia dan Jeff Bridges sebagai Obadiah Stane, pemeran antagonis di film ini.

Walau tidak ada perubahan dalam pola penggambarannya, plot cerita Iron Man sangat menarik, dan bumbu humor yang dihadirkan mendapat porsi yang pas. Banyak kejutan yang ada di film ini yang mampu membuat kita dapat menikmati film ini. Tidak usah mempertanyakan special effect-nya. Semua orang sudah tahu apa yang dapat terjadi setelah Transformer (2007) mendapat Best Achievement in Visual Effect pada Oscar 2008. Hollywood tampak siap membuat special effect dan animasi serumit apapun. Tapi rupanya, Favreau berhasil menahan dirinya untuk tidak menggunakan special effect secara berlebihan, sehingga film ini tetap enak dilihat. Tetapi Iron Man tidak luput dari celah-celah kecil. Seperti adegan ketika para teroris memerintahkan Tony membuat rudal dalam waktu seminggu, tetapi di adegan lain dikatakan bahwa Tony telah menghilang selama 3 bulan.

Selayaknya film adaptasi, ada hal-hal yang dihilangkan dan ditambahkan untuk mencapai kesesuaian. Mungkin hal inilah yang patut dipuji pada Iron Man, karena penambahan dan pengurangan yang ada tidak menganggu jalannya film ini. Penggemar komik Iron Man akan mengerti ketika Captain Rhodes (Terrence Howard) berkata “Next time, baby.” ketika melihat baju yang tergantung di ruang bawah tanah Tony. Mungkin itulah janji kehadiran War Machine di sekuel Iron Man. Dan siapa yang kemudian mengira bahwa kehadiran agen membosankan yang muncul di sepanjang film telah menuntun kita kepada organisasi bernama SHIELD. Hal ini membuat penonton yang membaca komik Iron Man sebelumnya maupun yang tidak membacanya tetap dapat menikmati film ini. Plot cerita kemunculan Iron Man juga tidak melenceng dari komik aslinya, perbedaannya mungkin hanya pada pemilihan tempat di Afghanistan (yang semula bersetting perang Vietnam). Riset Favreau kepada para penggemar komiknya ternyata membuahkan hasil yang menggembirakan, menonton film ini merupakan pengalaman yang menyenangkan. Iron Man merupakan film pembuka yang sangat pas untuk mengawali rentetan Summer Movies di tahun ini.

Read Full Post »