Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2010

We’re growing old by little some fairy tales coming along our bedside. As for me, the bed side is my television set, completed with my old fairytales Disney movies coming along my way. Walt Disney adalah mesin pembuat mimpi, oh kita semua pasti hafal setiap scene yang ada di Aladdin atau Beauty and the Beast. Kali ini, bertahun-tahun setelah saya menonton semua cerita indah itu, saya menonton The Princess and the Frog. And yet, it is still have the magical and the charming way of Disney fairytales.

Walt Disney masih mesin pembuat mimpi. Dibuat dalam animasi 2D dengan warna-warna cantik yang menyenangkan, saya masih menangis di akhir film. The Princess and the Frog tidak bersetting di negeri far far away, ceritanya justru terjadi di ibukota kelahiran Jazz, New Orleans! Sehingga filmnya punya nuansa jazz yang indah. Untuk bagian ini, mari membahasnya belakangan (oh, it’s just as magical as the story). Ceritanya tentang Tiana, a princess in the making. Seorang pemimpi, dengan cita-cita setinggi bintang ia berniat mewujudkan mimpi ayahnya untuk membangun restorannya sendiri. Hidupnya kemudian berubah ketika seorang pangeran bernama Naveen datang ke kota dan secara tidak sengaja terjebak oleh tipu muslihat seorang ahli nujum (??), yang dikenal dengan nama Shadow Man, ia menggunakan somewhat ilmu hitam dan mengubah Naveen menjadi kodok. Naveen yang bertemu dengan Tiana di masquerade yang diadakan Charlotte—sahabat Tiana yang kaya raya—kemudian mencium Tiana yang disangkanya Princess untuk mengubahnya kembali menjadi pangeran. Tetapi, justru Tiana yang berubah menjadi kodok, dan keduanya kemudian mengalami banyak petualangan untuk menemukan banyak hal yang tidak pernah mereka kira tidak akan mereka temukan sebelumnya.

Plotnya menarik, karena ketika Tiana berubah menjadi kodok, siapa yang dapat menebak cerita lanjutannya? Ya, kita akan tahu bahwa cerita akan berakhir bahagia tapi siapa yang menyangka kita akan bertemu dengan seorang alligator yang suka nge-jam dan pada akhirnya menemukan Evangeline bagi diri kita semua.

Fairy tales selalu punya satu hal yang membuat kita selalu jatuh cinta, mimpi. Semua hal dalam film ini adalah mimpi. Mimpi yang kadang kita sendiri tidak mengerti apakah itu akan benar-benar terjadi atau tidak. Tapi di film ini, Tiana menjawab lewat lagunya “Down in New Orleans”. Dreams do coms true on New Orleans! Saya suka sekali dengan Tiana, oh you don’t mess around with girl with a dreams set on her forehead. Tiana adalah seorang putri, dan ia berhak mendapat titel itu. Tidak seperti Princess Disney lainnya, Tiana tidak bermimpi untuk menikah atau hidup bahagia selamanya. Ia seorang pekerja keras yang percaya bahwa mimpi adalah kumpulan dari usaha dan kerja keras. Karakter ini keren sekali, saya ingin menjadi seperti Tiana. Oh, saya menangis mendengar Tiana menyanyikan lagu Almost There :P

Untuk bagian scoring dan soundtrack (oh, saya menunggu-nunggu ke bagian ini), a full round of standing applause! It’s both delightful and charming. Tidak aneh, karena scoring-nya dipegang oleh pemegang Oscar, the maestro—Rendy Newman! Rendy Newman adalah komposer favorit saya, karena ia juga bertanggung jawab atas musik-musik indah yang ada di Toy Story dan film-film terdahulu PIXAR, sebelum sekarang beralih kepada Michael Giachinno. Soul jazz-nya terasa di setiap soundtrack yang terdengar, saya suka lagu “Almost There”, “Dig a Little Deeper”, dan semua tiupan horn yang dimainkan Louis. Lagu ending “Never Knew I Needed” yang dinyanyikan Ne-Yo di credit film juga memberikan nuansa modern yang membuat kita dikembalikan ke dunia nyata dan baru saja diceritakan dongeng panjang tentang seorang putri dan pangeran kodoknya.

Recommended Consensus: It is a nostalgic moment to see a Disney Classic put on a modern kind of way about a princess finding her dreams and happiness. Swing you around the storyline that it is kind of delightful and jazzy. Oh noted on this one, do believe that dreams could happen on real life too.

Advertisements

Read Full Post »

How I Met Your Mother

Kakak saya maniak film serial, makanya mau tidak mau saya jadi terpengaruh untuk menonton film-film seperti apa yang biasa dia tonton. Salah satu yang paling menarik perhatian saya, tentu saja Desperate Housewives dan How I Met Your Mother.

How I Met Your Mother yang ditayangkan di CBS telah memulai season ke-5 nya di tahun 2010 ini. Lahir dari tangan Craig Thomas dan Carter Bays, di mana mereka menciptakan kebanyakan elemen dari cerita ini dari kehidupan mereka sehari-hari. How I Met Your Mother bercerita tentang Ted Mosby yang di awal season, pada tahun 2030 sedang bercerita kepada kedua anaknya bagaimana ia bertemu dengan istrinya. Ceritapun bergulir kembali ke tahun 2000-an di mana Ted dengan umur di akhir 20-an menjalani kehidupannya. Dalam kelanjutannya, Ted diceritakan punya dua sahabat bernama Marshall Eriksen & Lily Aldrin yang sudah pacaran selama 9 tahun dan Barney Stinson yang playboy kelas berat dengan pekerjaan aneh yang misterius. Ted yang desperate mencari pendamping hidup itu akhirnya bertemu dengan Robin Scherbatsky yang pada akhir season 1 akhirnya berhasil dipacari oleh Ted. Ceritapun bergulir di season-season selanjutnya tentang persahabatan mereka berlima (Robin akhirnya putus dengan Ted dan menjadi teman baik dengan mereka semua). Kelimanya diceritakan sebagai New Yorker yang sering terlihat nongkrong di sebuah bar bernama McLaren ataupun di apartemen Ted dengan masalah kehidupannya yang aneh dan kadang konyol.

Yang menarik dari serial TV ini adalah gaya penceritaannya yang dibuat flashback secara konsisten. Makanya serial ini punya tagline “A love story in reverse”. Dari awal season, cerita akan selalu dimulai dengan kedua anak Ted yang mengarah ke depan, terlihat bosan mendengarkan cerita Ted yang tidak selesai-selesai. Ngomong-ngomong, narasi Ted semasa tua yang ada di sepanjang cerita adalah suara Bob Saget (ingat America’s Funniest Home Videos?). Yang membuat greget adalah cerita tentang si istri Ted yang sebenarnya hanya dibubuhkan sedikit-sedikit di sepanjang ceritanya. Tampaknya mereka tahu kapan penonton akan bosan dan membuat lonjakan cerita yang tidak terduga. Yang saya suka juga adalah humornya menyenangkan! Karakter favorit saya adalah Barney Stinson yang menyatakan “Nothing suit me like a suit”, makanya ia selalu tampil dengan suit (kemeja, jas, celana dan lengkap dengan dasi) di sepanjang cerita. Karakter ini lucu luar biasa, ia selalu mengagungkan sebuah buku berjudul ‘The Bro Code’ yang benar-benar diciptakan untuk serial ini. Ataupun kalimat-kalimat seperti ‘wait for it…’ dan meminta ‘high five’ dari teman-temannya. Lucunya lagi, di serial ini, setiap elemen yang hanya sekedar numpang lewat pada suatu saat akan menjadi penting sehingga kita dipaksa memperhatikan setiap episodenya dengan baik. Seperti adegan kambing yang salah diceritakan di ulang tahun ke-30 Ted, ia muncul lagi di season berikutnya pada ulang tahun ke-31 Ted. Di serial ini, Ted juga kadang-kadang terlupa dengan beberapa hal di ceritanya, ia kadang menggunakan beberapa metafora dan memberi sedikit bumbu berlebihan pada cerita-ceritanya. Yang justru menjadi humor lain yang menarik.

Buat saya, serial ini mudah disukai karena gaya penceritaannya yang agak mirip dengan Friends. Cerita tentang pertemanan akan everlasting dan selalu disukai, kan? Makanya, saya merekomendasikan serial TV ini buat Anda. Karena setelah menonton serial ini, saya jamin Anda akan segera mencari-cari tempat nongkrong seperti McLaren dan membawa pacar Anda untuk makan malam bersama sahabat-sahabat Anda untuk sekedar melihat bagaimana pacar Anda dinilai oleh mereka.

Read Full Post »

Lucky Luke

The Wild West Cinematic Experience with Comical Panel on Screen

Film ini merupakan salah satu adaptasi dari komik berjudul sama, Lucky Luke. Komik Prancis-Belgia yang pertama kali diterbitkan di tahun 1946 ini merupakan buah karya dari Mourice De Bevere atau dikenal dengan Morris. Bersama dengan The Adventure of Tin Tin dan Asterix, komik ini merupakan salah satu komik terlaris yang terjual di kawasan Eropa. Komiknya sendiri telah dijadikan film kartun serial, sempat juga hadir di layar kaca Indonesia sendiri, sewaktu saya kecil (saya lupa kapan, tahun 90-an berarti). Akhirnya, di tahun 2009 kemarin, seorang sutradara Prancis, James Huth membuat komik ini menjadi sebuah film yang sungguh luar biasa.

Jean Dujardin berperan sebagai Lucky, seorang jagoan tembak yang dikatakan dapat menembak lebih cepat dari bayangannya. Dari titling awalnya, kita sudah disuguhkan tayangan yang menjanjikan. Jika Anda pernah menonton titling kartunnya, ada satu adegan memorable di mana Lucky menembak mendahului bayangannya, dan di film ini, adegan itu benar-benar divisualisasikan. Setelah bertahun-tahun pergi, Lucky Luke ditemani kudanya yang bisa bicara Jolly Jumper, kembali ke Daisy Town—kota tempat kelahirannya. Lucky meninggalkan kota itu setelah kedua orang tuanya, dibunuh dengan sadis oleh sekelompok bandit yang tak dikenal. John Luke yang berhasil kabur dari tempat itu kemudian mengubah namanya, menjadi Lucky Luke karena keberuntungannya untuk tetap hidup. Lucky yang berniat membuat bebas Daisy Town dari para kriminal, karena perintah Presiden, mengalami berbagai rintangan termasuk dari sherif kota itu sendiri, Pat Poker. Setelah itupun, Lucky bertemu dengan tokoh-tokoh lagendaris daerah West Side, seperti Billy the Kid, Calamity Jane, dan Jesse James. Dalam cerita aslinya sendiri, Lucky memang dipertemukan dengan tokoh-tokoh yang benar-benar hidup di dunia nyata ini.

Karena bermula dari komik, maka penggambaran film ini sungguh komikal. Lawakan-lawakannya kadang terlalu garing karena terlalu komikal, tapi saya cenderung suka. Begitu juga dengan penggambaran tempat-tempat ataupun benda di film ini. Ada satu adegan yang menarik yang saya ingat betul. Ketika Lucky berduel dengan Pat Poker, Lucky menjatuhkan lencana sherif-nya. Tetapi alih-alih mengambil adegannya dengan angle kamera dramatis, Hunt sengaja membuat replika lencana tersebut berkali lipat lebih besar dari aslinya hanya untuk satu adegan yang lebih dramatis. Banyak juga adegan sok keren yang jadinya dimaklumi karena gaya penggambaran film ini yang memang ingin terlihat begitu. Adegan terakhir tempat pertarungan yang ada di Vegas juga keren sekali, itu casino paling keren yang pernah saya lihat! Adegan di toko topi juga mencuri perhatian saya. Anda harus menyaksikan sendiri kekerenannya. Pujian terbesar saya alamatkan kepada Jean DuJardin yang mirip sekali dengan Lucky di komik aslinya (rambutnya itu, lho!). Apalagi ketika mengetahui bahwa Dujardin ternyata adalah seorang pelawak Perancis, tetapi di film ini ia berakting sok serius yang menjadikan karakter Lucky semakin komikal, which is good!

Karena dibuat sebagai sinema Perancis, maka gaya filmnya sungguh rapi. Gaya potongan-potongan cepat membuat setiap adegan film ini menjadi tidak sia-sia. Intinya sih, saya suka karena penggambaran film yang segar (saya kebanyakan nonton film Hollywood akhir-akhir ini). Ketika mencari tentang data-datanya di internet, saya menemukan sedikit sekali info tentang film ini (kecuali official website-nya dalam bahasa Perancis, doh!). Makanya, saya menganjurkan untuk mencoba menonton film ini. Sayang jika film ini sebagus ini hampir tidak pernah dilirik, karena jujur saja saya menemukannya di salah satu toko DVD berjajar dengan ‘film-film aneh’ macam Lord of the Rings 6 atau Assassin’s Creed jadi-jadian. Saya memang terlalu beruntung untuk membeli film ini dan menontonnya.

Recommended Consensus: Be lucky as Lucky Luke to experience this wonderful movie. Comical, funny, and dramatic is three words to portray the cinematography and the visualization of the movie. Lucky Luke can definitely shoots our hearts faster than the shadow. Applause!

Read Full Post »

A Tale about the Bet and the World Behinds the Glasses
Dr. Parnassus adalah seorang immortal, ia dikaruniai umur yang tak terhingga. Ia dan kelompok kecilnya (anaknya Valentina, Anton, dan seorang dwarf atau apalah, Percy) berkeliling dunia untuk mengajak orang-orang untuk merasakan Imaginarium miliknya. Sebuah dunia di balik cermin yang berisi apapun yang pernah diimpikan oleh manusia. Tak ada yang pernah tahu dari mana ia mendapatkan keabadiannya, tetapi semuapun terjawab ketika anaknya, Valentina, menginjak umur 16 tahun. Dr. Parnassus kemudian menceritakan pertaruhannya dengan iblis. Sang iblis yang akrab dipanggil Mr. Nick ini rupanya penggemar sejati pertaruhan, ia menjebak Dr. Parnassus untuk terus menerus bertaruh demi mendapatkan keinginannya. 3 hari sebelum ulang tahun Valentina, kelompok Parnassus bertemu dengan Tony. Terikat tergantung di bawah jembatan, Tony mengaku hilang ingatan. Parnassus akhirnya kembali mempertaruhkan taruhannya kepada Tony untuk memenangkan anaknya kembali.

Saya memuja film ini! Benar-benar hanya keindahan yang ditampilkan di film ini. Sejak detik pertama film dimulai, saya sudah memasuki dunia cermin dan terpukau melihat imajinasi luar biasa yang ada di film ini. Saya salah kalau menganggap, Burton adalah satu-satunya sutradara dewa yang memiliki imajinasi terliar yang pernah ada. Terry Gilliam ternyata adalah seorang dewa juga. Ceritanya juga ajaib! The Imaginarium of Dr. Parnassus mampu membuai dan perlahan-lahan menarik kita masuk ke rangkaian ceritanya dengan wajar. Iya, semakin lama menonton film ini, saya semakin yakin bahwa dunia yang ada di dalam film ini adalah dunia sungguhan. Saya lupa bahwa latar film ini adalah jalanan kota London entah di tahun berapa, dan mana mungkin ada orang yang tidak mati-mati walau digantung berkali-kali.

Terry Gilliam juga bertaruh dengan baik di film ini. Setelah ditinggal oleh Heath Ledger, ia terpaksa mengubah jalan cerita film ini—yang anehnya, tersamarkan dengan baik. Tanpa mengubah kehadiran Heath Ledger di filmnya, Gilliam menggunakan aktor-aktor lain (Jude Law, Johnny Depp, dan Colin Farrel) menggantikan keberadaan Ledger ketika masuk ke Imaginarium. Sungguh jenius! Saya suka akting para pemainnya, termasuk Ledger tentunya. Aktingnya mengalir wajar, tidak ada wajah si penjahat sakit Joker sedikitpun. Parnassus dan Valentina (masing-masing diperankan oleh Christopher Plummer dan Lily Cole) juga bermain bagus. Seperti saya bilang tadi, di film ini memang tidak butuh akting yang mati-matian, tapi justru akting wajarlah yang dibutuhkan dan semua pemainnya berhasil menampilkan hal tersebut dengan baik. Valentina sungguh tampak seksi dan Parnassus sungguh menggambarkan kepedihan hatinya karena ‘dikutuk’ hidup selamanya.

Selain akting para pemainnya, yang memainkan ansambel yang menarik, yang patut dipuji juga adalah artistik dari film ini. Oscarpun memuji bagian ini dengan memberinya nominasi untuk Best Art Director, walaupun (sayangnya) AVATAR harus memenangkan kategori ini. Jika harus membahas bagian ini, seperti sudah saya bilang di awal, hanya keindahan yang ada di film ini. Benar-benar menakjubkan. Dunia imajinasinya berhasil dibangun dengan bukan hanya CGI yang menarik, tetapi juga set dunia yang dibuat tangan. Saya suka adegan pertama ketika seorang pemabuk masuk ke Imaginarium tersebut, set hutannya dibuat dari kertas, luar biasa! Saya juga suka bagian ketika Tony mengubah panggung Parnassus (yang klasik dengan warna emas gemerlap) dan menggantinya dengan warna hitam-putih yang kontemporer. Penggambaran karakter Mr. Nick juga luar biasa. Walaupun ia adalah iblis, ia digambarkan layaknya Charlie Chaplin dengan setelah jas hitam putih dan topi bulat, juga rokok yang selalu tersulut. Dengan tampilan yang justru tidak menyebalkan, kecuali matanya yang menyipit licik, Tom Waits berhasil membuat tokoh ini menjadi tokoh yang bisa saya benci.

Dari bagian ceritanya, saya memberikan standing applause, saya suka sekali film ini! Endingnya—walau belum tentu bisa diterima semua orang—sungguh memuaskan buat saya. Ini sebuah pernyataan, film ini lebih memuaskan dahaga saya akan film surealis jauh jauh jauh melebihi Alice in Wonderland di tahun ini. Sehingga, saya merekomendasikan film ini untuk ditonton. Silahkan saja pilih medianya, entah di bioskop atau di DVD. Saya sih menyarankan untuk nonton di DVDnya saja, karena pemahaman akan film ini membutuhkan waktu loading yang lumayan sehingga kadang saya memutar ulang beberapa adegan (mungkin ini karena saya agak lemot). Selain itu, di tempat tinggal saya sekarang (sebut saja Bandung :P), belum ada tanda-tanda kehidupan akan pemutaran film ini di bioskop (setahu saya di Jakarta sudah diputar).

Recommended Consensus: The Imaginarium of Doctor Parnassus pulls out our deepest imagination and brings the most sensitive senses of our thought. Bringing us a very great artistic scenery and visualization. Gilliam’s imagination successfully gives us an irresistible visual and mind blowing experience that will be hard to forget. Great, great, great films of (last and) this year!

Read Full Post »

Percy Jackson and the Olympians The Lightning Thief keluar di saat yang bersamaan dengan Alice in Wonderland. Jadi, saya (tentu saja) memilih untuk nonton Alice in Wonderland. Banyak yang bilang film ini jelek, jadi kunjungan saya ke bioskop untuk menonton film ini agak terhambat, walaupun sebenarnya saya tertarik sekali. Sampai akhirnya, banyak kritik yang membandingkan Clash of the Titans dengan film ini, saya kemudian tertarik untuk menonton lagi (di DVD tentu saja, soalnya filmnya sudah tidak ada di bioskop).

Film ini bercerita tentang Percy Jackson, si anak dewa Poseidon (disebut demi-god di film ini, karena setengah dewa dan setengah manusia). Diceritakan bahwa lightning bolt Zeus yang merupakan senjata terdahsyat hilang dan anak Poseidon dituduh sebagai pelakunya. Semua orang mengincar Percy, karena Zeus telah mengultimatum bahwa jika lightning bolt itu tidak dikembalikan sebelum solstice (titik balik matahari, saya kurang tahu artinya), maka perang akan terjadi. Begitulah akhirnya Percy mengetahui bahwa ia adalah anak dewa karena beberapa kejadian termasuk penyerangan monster-monster aneh, dan kemampuannya bertahan di dalam air. Bersama pelindungnya, satyr (manusia setengah kambing) bernama Grover, iapun masuk ke tempat pelatihan para demi-god. Di sanalah ia bertemu dengan Annabeth (anak Athena), akhirnya ketiganya memulai perjalanan untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah dan menyelamatkan ibunya dari ancaman Hades.

Ternyata… filmnya SEGAR! Saya suka penggambaran modern elemen-elemen dewa di film ini. Mulai dari penggambaran Medusa yang pakai kacamata hitam (wow, Uma Thurman tetap keren walau hanya jadi cameo) dan converse bersayap (KEREN, KEREN sekali!). Yang saya suka lagi adalah tokoh Persephone yang merupakan istri Hades dan si Hades sendiri. Keren! Di lagenda aslinya sendiri, Persephone dijebak Hades untuk tinggal di neraka, tetapi setiap beberapa bulan sekali ia diperbolehkan mengunjungi Ibunya di dunia. Nah, pada waktu itulah musim semi terjadi dan ketika Persephone kembali ke neraka, maka musim dingin tiba. Di bayangan saya, tentu saja si Persephone adalah wanita lemah lembut yang mampu membuat dunia bergembira karena kedatangannya. Di film ini, justru Persephone digambarkan sebagai hot black momma yang mandiri dan mampu memberontak! Hades sendiri digambarkan sebagai rocker beraksen British dengan baju robek-robek dan hiasan gitar di ruang tamunya yang gothic. Film ini saya katakana segar karena kedekatannya dengan dunia anak muda modern yang mudah sekali disukai. Para penontonnya akan menganggap bahwa ini memang dunia zaman sekarang, dan bisa saja kalau sebenarnya memang ada anak dewa di antara kita. Kalau ada hal-hal aneh yang nggak wajar, yaa bisa saja dianggap wajar, toh ini dunia dewa. Yang lucu juga, jajaran soundtracknya lucu. Sewaktu perjalanan ketiganya ke neraka tempat Hades, soundtrack yang diputar adalah Highway to Hell dari AC/DC.

Selain dari penggambaran elemen-elemen di film ini, alur ceritanya sendiri tidak lepas dari lubang-lubang besar di sepanjang film. Contohnya kenapa tiba-tiba Zeus menuduh Percy yang mencuri lightning bolt, atau Ibu Percy yang tiba-tiba tahu cara mengendalikan lift menuju Olympus, dll. Tetapi, karena film ini termasuk film popcorn, saya jadi memaklumi banyak hal. Saya suka film popcorn, dan saya tahu standar-standar film popcorn. Menurut saya, film ini bisa dikatakan luar biasa untuk standar film popcorn dengan target pasar anak muda. Oh ya, Percy Jackson-nya (Logan Lerman) ganteng (diceritakan di film ini ia punya warna mata sedalam birunya lautan, he?)!

Banyak yang berkata bahwa film ini adalah sekedar salah satu film Harry Potter di mana karakter dewa menggantikan kekuatan sihir, hal itu dipicu oleh si sutradaranya sendiri Chris Columbus (Columbus menyutradarai film Harry Potter and the Sorcerers Stone). Tapi menurut saya, ya sudahlah… Toh tayangannya tetap menghibur. Akhir kata, Percy Jackson and the Olympians The Lightning Thief adalah film yang menurut saya punya target pasar dan tujuan yang jelas dalam pembuatannya. Saya lebih merekomendasikan film ini dibanding Clash of the Titans yang juga mengusung tema yang sama.

Recommended Consensus: Percy Jackson and the Olympians The Lightning Thief is an absolute certified fresh. Although the storyline fell standard amongst other popcorn movies, they successfully transfer the myth to the modern world and give us an entertaining movie that is more than fun to watch.

Read Full Post »

Glee is as addictive as drugs, and seductive like jasmine perfume. Glee is joy, Glee is passion and above all, it keeps us stuck to the TV and cheers, “This is just a real pleasure to watch.”

Saya punya ketertarikan khusus pada film musikal. Hebatnya, serial ini muncul dengan gempita dan sangat mudah untuk membuat saya jatuh cinta kepadanya. Glee merupakan serial TV baru keluaran FOX di tahun 2009, berasal dari produser Nip/Tuck dan Popular—Ryan Murphy. Glee adalah serial musikal yang tidak mengangkat tema yang luar biasa. Tema yang diangkat justru biasa-biasa saja. High school! The never ending experienced we treasure forever. Seperti layaknya film dengan tema ini, masalah-masalah yang bermunculan tidak jauh-jauh dari perbedaan kasta di sekolah, masalah pacar-pacaran, kehamilan, persahabatan, dll. Tetapi, kenapa Glee bisa-bisanya mencuri hati kita semudah itu? Golden Globe bahkan memberikannya penghargaan Best Musical/Comedy TV Series dan Best Ansamble-nya kepada Glee yang baru punya satu season ini. Single Don’t Stop Believing di-download hampir 500.000 kali, People Choice Award memberikan penghargaan Best New Comedy TV Series dan sekarang, semua orang sudah berbicara tentang Glee.

Serial TV ini bercerita tentang perjuangan William Schuester, seorang guru di McKinley High School, yang berniat menghidupkan kembali Glee Club. Sebuah klub untuk performance musik dan tari (di film ini didefinisikan sebagai Show Choir). Dimulailah perjuangannya untuk mengumpulkan anak-anak yang berbakat di bidang itu, tapi sayangnya anak-anak ini justru berada pada kasta-kasta terendah sekolah. Loser, lebih akrabnya. Kerap sekali kita melihat anak-anak Glee Club ini dijahili, dan diolok-olok. Tetapi, kita kembali diajarkan bagaimana perjuangan mereka untuk bertahan dengan bantuan teman-teman mereka sendiri. Dalam perjalanannya banyak halangan yang harus dilewati, terutama dari coach klub cheerleders Cheerios—Sue Sylvester. Bumbu konflik juga terjadi ketika rumah tangga Will mengalami keretakan karena istrinya Teri pura-pura hamil dan bagaimana ia mulai tertarik dengan rekan sesama gurunya, Emma Pillsburry. Ataupun kehamilan Quinn Fabray—kapten cheerleader yang awalnya masuk ke Glee Club untuk menghancurkan klub ini tetapi justru jatuh cinta akan persahabatan yang ditawarkan di tempat ini. Dan bagaimana persahabatan mereka harus diuji ketika status sosial kembali menjadi prioritas.

Ceritanya terdengar klise memang, tapi inilah yang sebenarnya kita cari-cari. Sebuah cerita yang tidak berangan-angan. Di tengah maraknya kehidupan glamor yang ditawarkan serial TV sejenis (Gossip Girl, 90210, dll), Glee justru menyoroti kehidupan biasa-biasa saja dengan pemain yang tampangnya biasa-biasa saja. Saya punya perbandingan yang bagus untuk hal ini. Kalau saya ingin membandingkan film ini dengan serial sejenis, saya harus berkata bahwa ini layaknya membandingkan Scrubs dan Grey’s Anatomy. Ya, kedua serial itu sama-sama bercerita tentang dunia kedokteran, tetapi Grey’s Anatomy punya deretan pemain yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik dengan kasus-kasus kedokteran yang luar biasa hebat. Scrubs menawarkan kehidupan nyata di mana kebodohan pemain-pemainnya justru menjadi daya tarik serial ini dibandingkan tampang pemain-pemainnya yang bermuka cenderung culun.

Ya, Glee menjual karakter para pemainnya. Kita akan melihat banyak pribadi unik seperti Rachel yang punya dua bapak gay yang punya sifat agak freak dan menyeramkan, Finn yang walaupun kapten tim football dan populer—ia agak bego dan (katanya) tidak bisa membedakan mana arah kanan atau kiri. Karakter yang paling menarik buat saya, tentu saja Kurt Hammel, si gay yang punya suara super tinggi dan suka mengikuti trend fashion (highlight dari Kurt, episode 5 di mana ia menari Single Ladies bersama seluruh tim football). Walaupun begitu, inilah daya pikat terbesar Glee. Kehidupan nyata yang ada di dalamnya dan interaksi yang seakan sungguhan ketika pribadi-pribadi aneh itu berkumpul di satu tempat. Dan ketika persahabatan, mau tak mau menjadi batas toleransi dari semua pribadi itu.

Satu hal yang paling saya suka, serial ini serial musikal dengan deretan tangga lagu yang menyenangkan. Kita bisa menemukan lagu-lagu hit yang sudah tidak asing di telinga pada setiap episode-nya. Lagu-lagunya kebanyakan lagu yang biasa kita dengar sehari-hari, mulai dari Lily Allen, Kanye West, Kelly Clarkson, Beyonce sampai lagu lawas macam Rolling Stones atau The Beatles. Lagu-lagunya membuat kita terngiang-ngiang sampai akhir episode, favorit saya tetap Keep Holding On dan You Can’t Always Get What You Want. Lagu-lagu ini diselipkan dengan baik dalam rehearsal ataupun performance para pemainnya, sehingga kemunculannya tidak terdengar aneh karena pemainnya tiba-tiba menyanyi. Penempatan dan arti lagunya terasa sangat pas di sepanjang season. Luar biasa!


Pada akhirnya, serial ini segera sudah menjadi fenomena pop di seluruh negeri. Jika harus menebak apa daya tarik utamanya? Saya cuma bisa bilang, serial ini adalah cerita tentang kita semua. Cerita tentang kita yang minoritas dan berusaha diterima oleh banyak orang, sampai akhirnya menemukan bagaimana diri kita yang sesungguhnya. Karena itu, mari menunggu tanggal 13 April 2010. Pada tanggal itu, Glee akan mengakhiri season break-nya dan memulai lagi memenuhi rasa penasaran kita di setiap episode. Last, I can’t wait to switch my TV and sing along. Hungry for another Glee.

Recommended Consensus: Glee is a joy you could never express because it is the story about the loser inside of all of us. Worth to wait, and made you want to go to the karaoke box to fill the set list with the soundtrack of Glee the right after.

Read Full Post »


Yeah, it is really deserved to be called a clash

Waktu kecil, saya suka sekali dengan legenda Yunani. Saya punya satu buku tebal tentang legenda-legenda Yunani, mulai dari Perang para Dewa, Apel, Kisah Kuda Troya, Jason dan para Argonauts, sampai Legenda Raja Midas.Terlepas dari trailernya yang kata orang mampu membuat kita bersumpah-sumpah ingin nonton, saya memang tertarik mendengar judulnya.

Clash of the Titans berkisar tentang Perseus—anak Zeus yang dibuang ke laut bersama Ibunya. Singkat cerita Perseus, berbekal setengah dewanya ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia dari ancaman Hades yang ingin menghancurkan sang Kakak, Zeus. Hades datang ke negara Argos, mengancam Acrisius sang raja, yang telah menghancurkan patung Zeus dan menantang perang terhadap para dewa. Diceritakan manusia sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan para dewa yang semena-mena dan akhirnya bosan untuk berdoa/memohon pada para dewa. Memanfaatkan kesempatan itu, Hades membuat pilihan kepada Acrisius, dia harus mengorbankan anaknya Andromeda, atau Hades akan melepaskan Kraken. Dikatakan Kraken adalah makhluk seram yang mampu menghancurkan Argos. Singkatnya, Perseus dan para tentara Argospun akhirnya bersatu untuk mengalahkan Hades dan Kraken. Iapun dibantu oleh Io, seorang peramal cantik yang tahu banyak tentang Perseus dan para dewa. Io dikutuk tidak bisa tua dan pada akhirnya ia menjalin kasih dengan Perseus.

Saya kurang tahu persis tentang cerita yang mana yang sebenarnya diangkat di film ini, banyak campuran-campuran cerita yang akhirnya dijadikan satu. Dari cerita yang saya ingat waktu kecil, Perseus sebenarnya adalah anak dari raja Argos—Acrisius. Diramalkan bahwa suatu saat nanti Acrisius akan mati terbunuh oleh anaknya sendiri. Ketakutan dengan hal itu, ia mengurung istrinya sendiri Danae di sebuah penjara. Tetapi karena kekuasaan Zeus, Danae akhirnya mempunyai anak yang kemudian diberi nama Perseus. Akhirnya, Acrisius membuang keduanya ke laut dan mereka ditemukan oleh seorang nelayan (saya lupa namanya). Perseuspun akhirnya dibesarkan olehnya. Si nelayan ini punya saudara bernama Polidectes yang merupakan raja di tempat itu. Polidectes yang jatuh cinta kepada Danae kemudian ingin menyingkirkan Perseus yang dianggap menganggu. Diutuslah Perseus untuk melaksanakan tugas-tugas mustahil agar dia mati (di antaranya adalah membawa kepala Medusa dan membunuh binatang-binatang aneh lainnya).

Nah, pertemuannya dengan Andromeda justru terjadi ketika Perseus hendak pulang setelah melaksanakan tugasnya. Ia menolong Andromeda yang diikat di batu dan dipersembahkan kepada sebuah makhluk laut. Hal ini terjadi karena ibunya, Cassiopeia membandingkan kecantikannya dengan para dewa. Poseidon yang marah kemudian mengancam mereka untuk mengorbankan Andromeda atau tempat itu akan dihancurkan oleh si makhluk laut. Perseus kemudian membunuh si makhluk laut dan menikahi Andromeda.

Cuma itu yang saya masih ingat. Kalau tidak salah, akhirnya Acrisius benar-benar terbunuh oleh anaknya sendiri karena tidak sengaja atau apa saya juga lupa. Titan yang dipakai di judul film juga sebenarnya adalah 12 anak keturunan Gaia dan Uranus yang pertama kali menguasai dunia.

Kembali ke Clash of the Titan. Filmnya sendiri, NGGAK SERU. Saya mengharap banyak adegan berantem yang menakjubkan (mengingat ini adalah perang para dewa). Tetapi justru porsi berantemnya hanya sedikit, si Kraken dan Hades mati dengan sangat cepat. Ingat adegan berantem Optimus Prime dan The Fallen (Transformers 2) yang nggak seru karena sebentar banget? Oh, yang ini jauh lebih buruk. Visual effectnya juga nggak terlalu bagus. Dan penggambaran para dewa di film ini sungguh mesum. Zeus dan Poseidon diceritakan dengan mudah ‘meniduri’ para manusia. Aduh, merusak sekali rasanya. Ini namanya pembunuhan karakter.

Hal yang paling membuat saya merasakan keganjilan adalah banyak jokes zaman sekarang yang dipakai di sepanjang film. Hey, ini zaman dewa-dewi Olimpus! Kenapa harus ada lawakan semacam itu? Lalu kemunculan Io yang terlalu tiba-tiba di sepanjang film. Oke dia cantik sih, tapi kenapa kemunculannya harus seperti itu. Dan adegan terakhir ketika Io dihidupkan kembali oleh Zeus karena ia tidak tahan melihat anaknya sendiri hidup sendirian di dunia tanpa pendamping (what the?).

Film ini merupakan remake ulang dari film yang berjudul sama di tahun 1981. Ketika melihat ratingnya di internet (oh, kalian tidak akan percaya), Imdb memberinya rating 7.6 dan RottenTomatoes hanya 31%. Dan kali ini, ya, saya harus mendewakan RottenTomatoes. Sangat disayangkan bahwa Clash of the Titans dengan ide cerita dan latar belakang cerita yang sangat agung harus berakhir menjadi film rata-rata yang ada di pasaran. Walau diformat menjadi 3-D nampaknya ceritanya yang ‘agak-agak’ ini akan menutupi semua visualnya (yang saya bahkan tidak peduli akan dibuat sebagus apapun). Terakhir dari saya, film ini membuktikan bahwa memang TRAILER BISA MENIPU dan visual sehebat apapun tidak akan bisa berkutik kalau dari awal punya dasar cerita yang buruk (dan saya senang sekali membuktikan hal ini).

Recommended Consensus: It is really a clash of the movie when you just don’t know why the movie is so damn flat and boring. And please release the Kraken, because we just really need to eat this movie alive!

Read Full Post »