Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2010

We’re growing old by little some fairy tales coming along our bedside. As for me, the bed side is my television set, completed with my old fairytales Disney movies coming along my way. Walt Disney adalah mesin pembuat mimpi, oh kita semua pasti hafal setiap scene yang ada di Aladdin atau Beauty and the Beast. Kali ini, bertahun-tahun setelah saya menonton semua cerita indah itu, saya menonton The Princess and the Frog. And yet, it is still have the magical and the charming way of Disney fairytales.

Walt Disney masih mesin pembuat mimpi. Dibuat dalam animasi 2D dengan warna-warna cantik yang menyenangkan, saya masih menangis di akhir film. The Princess and the Frog tidak bersetting di negeri far far away, ceritanya justru terjadi di ibukota kelahiran Jazz, New Orleans! Sehingga filmnya punya nuansa jazz yang indah. Untuk bagian ini, mari membahasnya belakangan (oh, it’s just as magical as the story). Ceritanya tentang Tiana, a princess in the making. Seorang pemimpi, dengan cita-cita setinggi bintang ia berniat mewujudkan mimpi ayahnya untuk membangun restorannya sendiri. Hidupnya kemudian berubah ketika seorang pangeran bernama Naveen datang ke kota dan secara tidak sengaja terjebak oleh tipu muslihat seorang ahli nujum (??), yang dikenal dengan nama Shadow Man, ia menggunakan somewhat ilmu hitam dan mengubah Naveen menjadi kodok. Naveen yang bertemu dengan Tiana di masquerade yang diadakan Charlotte—sahabat Tiana yang kaya raya—kemudian mencium Tiana yang disangkanya Princess untuk mengubahnya kembali menjadi pangeran. Tetapi, justru Tiana yang berubah menjadi kodok, dan keduanya kemudian mengalami banyak petualangan untuk menemukan banyak hal yang tidak pernah mereka kira tidak akan mereka temukan sebelumnya.

Plotnya menarik, karena ketika Tiana berubah menjadi kodok, siapa yang dapat menebak cerita lanjutannya? Ya, kita akan tahu bahwa cerita akan berakhir bahagia tapi siapa yang menyangka kita akan bertemu dengan seorang alligator yang suka nge-jam dan pada akhirnya menemukan Evangeline bagi diri kita semua.

Fairy tales selalu punya satu hal yang membuat kita selalu jatuh cinta, mimpi. Semua hal dalam film ini adalah mimpi. Mimpi yang kadang kita sendiri tidak mengerti apakah itu akan benar-benar terjadi atau tidak. Tapi di film ini, Tiana menjawab lewat lagunya “Down in New Orleans”. Dreams do coms true on New Orleans! Saya suka sekali dengan Tiana, oh you don’t mess around with girl with a dreams set on her forehead. Tiana adalah seorang putri, dan ia berhak mendapat titel itu. Tidak seperti Princess Disney lainnya, Tiana tidak bermimpi untuk menikah atau hidup bahagia selamanya. Ia seorang pekerja keras yang percaya bahwa mimpi adalah kumpulan dari usaha dan kerja keras. Karakter ini keren sekali, saya ingin menjadi seperti Tiana. Oh, saya menangis mendengar Tiana menyanyikan lagu Almost There :P

Untuk bagian scoring dan soundtrack (oh, saya menunggu-nunggu ke bagian ini), a full round of standing applause! It’s both delightful and charming. Tidak aneh, karena scoring-nya dipegang oleh pemegang Oscar, the maestro—Rendy Newman! Rendy Newman adalah komposer favorit saya, karena ia juga bertanggung jawab atas musik-musik indah yang ada di Toy Story dan film-film terdahulu PIXAR, sebelum sekarang beralih kepada Michael Giachinno. Soul jazz-nya terasa di setiap soundtrack yang terdengar, saya suka lagu “Almost There”, “Dig a Little Deeper”, dan semua tiupan horn yang dimainkan Louis. Lagu ending “Never Knew I Needed” yang dinyanyikan Ne-Yo di credit film juga memberikan nuansa modern yang membuat kita dikembalikan ke dunia nyata dan baru saja diceritakan dongeng panjang tentang seorang putri dan pangeran kodoknya.

Recommended Consensus: It is a nostalgic moment to see a Disney Classic put on a modern kind of way about a princess finding her dreams and happiness. Swing you around the storyline that it is kind of delightful and jazzy. Oh noted on this one, do believe that dreams could happen on real life too.

Read Full Post »

How I Met Your Mother

Kakak saya maniak film serial, makanya mau tidak mau saya jadi terpengaruh untuk menonton film-film seperti apa yang biasa dia tonton. Salah satu yang paling menarik perhatian saya, tentu saja Desperate Housewives dan How I Met Your Mother.

How I Met Your Mother yang ditayangkan di CBS telah memulai season ke-5 nya di tahun 2010 ini. Lahir dari tangan Craig Thomas dan Carter Bays, di mana mereka menciptakan kebanyakan elemen dari cerita ini dari kehidupan mereka sehari-hari. How I Met Your Mother bercerita tentang Ted Mosby yang di awal season, pada tahun 2030 sedang bercerita kepada kedua anaknya bagaimana ia bertemu dengan istrinya. Ceritapun bergulir kembali ke tahun 2000-an di mana Ted dengan umur di akhir 20-an menjalani kehidupannya. Dalam kelanjutannya, Ted diceritakan punya dua sahabat bernama Marshall Eriksen & Lily Aldrin yang sudah pacaran selama 9 tahun dan Barney Stinson yang playboy kelas berat dengan pekerjaan aneh yang misterius. Ted yang desperate mencari pendamping hidup itu akhirnya bertemu dengan Robin Scherbatsky yang pada akhir season 1 akhirnya berhasil dipacari oleh Ted. Ceritapun bergulir di season-season selanjutnya tentang persahabatan mereka berlima (Robin akhirnya putus dengan Ted dan menjadi teman baik dengan mereka semua). Kelimanya diceritakan sebagai New Yorker yang sering terlihat nongkrong di sebuah bar bernama McLaren ataupun di apartemen Ted dengan masalah kehidupannya yang aneh dan kadang konyol.

Yang menarik dari serial TV ini adalah gaya penceritaannya yang dibuat flashback secara konsisten. Makanya serial ini punya tagline “A love story in reverse”. Dari awal season, cerita akan selalu dimulai dengan kedua anak Ted yang mengarah ke depan, terlihat bosan mendengarkan cerita Ted yang tidak selesai-selesai. Ngomong-ngomong, narasi Ted semasa tua yang ada di sepanjang cerita adalah suara Bob Saget (ingat America’s Funniest Home Videos?). Yang membuat greget adalah cerita tentang si istri Ted yang sebenarnya hanya dibubuhkan sedikit-sedikit di sepanjang ceritanya. Tampaknya mereka tahu kapan penonton akan bosan dan membuat lonjakan cerita yang tidak terduga. Yang saya suka juga adalah humornya menyenangkan! Karakter favorit saya adalah Barney Stinson yang menyatakan “Nothing suit me like a suit”, makanya ia selalu tampil dengan suit (kemeja, jas, celana dan lengkap dengan dasi) di sepanjang cerita. Karakter ini lucu luar biasa, ia selalu mengagungkan sebuah buku berjudul ‘The Bro Code’ yang benar-benar diciptakan untuk serial ini. Ataupun kalimat-kalimat seperti ‘wait for it…’ dan meminta ‘high five’ dari teman-temannya. Lucunya lagi, di serial ini, setiap elemen yang hanya sekedar numpang lewat pada suatu saat akan menjadi penting sehingga kita dipaksa memperhatikan setiap episodenya dengan baik. Seperti adegan kambing yang salah diceritakan di ulang tahun ke-30 Ted, ia muncul lagi di season berikutnya pada ulang tahun ke-31 Ted. Di serial ini, Ted juga kadang-kadang terlupa dengan beberapa hal di ceritanya, ia kadang menggunakan beberapa metafora dan memberi sedikit bumbu berlebihan pada cerita-ceritanya. Yang justru menjadi humor lain yang menarik.

Buat saya, serial ini mudah disukai karena gaya penceritaannya yang agak mirip dengan Friends. Cerita tentang pertemanan akan everlasting dan selalu disukai, kan? Makanya, saya merekomendasikan serial TV ini buat Anda. Karena setelah menonton serial ini, saya jamin Anda akan segera mencari-cari tempat nongkrong seperti McLaren dan membawa pacar Anda untuk makan malam bersama sahabat-sahabat Anda untuk sekedar melihat bagaimana pacar Anda dinilai oleh mereka.

Read Full Post »

Lucky Luke

The Wild West Cinematic Experience with Comical Panel on Screen

Film ini merupakan salah satu adaptasi dari komik berjudul sama, Lucky Luke. Komik Prancis-Belgia yang pertama kali diterbitkan di tahun 1946 ini merupakan buah karya dari Mourice De Bevere atau dikenal dengan Morris. Bersama dengan The Adventure of Tin Tin dan Asterix, komik ini merupakan salah satu komik terlaris yang terjual di kawasan Eropa. Komiknya sendiri telah dijadikan film kartun serial, sempat juga hadir di layar kaca Indonesia sendiri, sewaktu saya kecil (saya lupa kapan, tahun 90-an berarti). Akhirnya, di tahun 2009 kemarin, seorang sutradara Prancis, James Huth membuat komik ini menjadi sebuah film yang sungguh luar biasa.

Jean Dujardin berperan sebagai Lucky, seorang jagoan tembak yang dikatakan dapat menembak lebih cepat dari bayangannya. Dari titling awalnya, kita sudah disuguhkan tayangan yang menjanjikan. Jika Anda pernah menonton titling kartunnya, ada satu adegan memorable di mana Lucky menembak mendahului bayangannya, dan di film ini, adegan itu benar-benar divisualisasikan. Setelah bertahun-tahun pergi, Lucky Luke ditemani kudanya yang bisa bicara Jolly Jumper, kembali ke Daisy Town—kota tempat kelahirannya. Lucky meninggalkan kota itu setelah kedua orang tuanya, dibunuh dengan sadis oleh sekelompok bandit yang tak dikenal. John Luke yang berhasil kabur dari tempat itu kemudian mengubah namanya, menjadi Lucky Luke karena keberuntungannya untuk tetap hidup. Lucky yang berniat membuat bebas Daisy Town dari para kriminal, karena perintah Presiden, mengalami berbagai rintangan termasuk dari sherif kota itu sendiri, Pat Poker. Setelah itupun, Lucky bertemu dengan tokoh-tokoh lagendaris daerah West Side, seperti Billy the Kid, Calamity Jane, dan Jesse James. Dalam cerita aslinya sendiri, Lucky memang dipertemukan dengan tokoh-tokoh yang benar-benar hidup di dunia nyata ini.

Karena bermula dari komik, maka penggambaran film ini sungguh komikal. Lawakan-lawakannya kadang terlalu garing karena terlalu komikal, tapi saya cenderung suka. Begitu juga dengan penggambaran tempat-tempat ataupun benda di film ini. Ada satu adegan yang menarik yang saya ingat betul. Ketika Lucky berduel dengan Pat Poker, Lucky menjatuhkan lencana sherif-nya. Tetapi alih-alih mengambil adegannya dengan angle kamera dramatis, Hunt sengaja membuat replika lencana tersebut berkali lipat lebih besar dari aslinya hanya untuk satu adegan yang lebih dramatis. Banyak juga adegan sok keren yang jadinya dimaklumi karena gaya penggambaran film ini yang memang ingin terlihat begitu. Adegan terakhir tempat pertarungan yang ada di Vegas juga keren sekali, itu casino paling keren yang pernah saya lihat! Adegan di toko topi juga mencuri perhatian saya. Anda harus menyaksikan sendiri kekerenannya. Pujian terbesar saya alamatkan kepada Jean DuJardin yang mirip sekali dengan Lucky di komik aslinya (rambutnya itu, lho!). Apalagi ketika mengetahui bahwa Dujardin ternyata adalah seorang pelawak Perancis, tetapi di film ini ia berakting sok serius yang menjadikan karakter Lucky semakin komikal, which is good!

Karena dibuat sebagai sinema Perancis, maka gaya filmnya sungguh rapi. Gaya potongan-potongan cepat membuat setiap adegan film ini menjadi tidak sia-sia. Intinya sih, saya suka karena penggambaran film yang segar (saya kebanyakan nonton film Hollywood akhir-akhir ini). Ketika mencari tentang data-datanya di internet, saya menemukan sedikit sekali info tentang film ini (kecuali official website-nya dalam bahasa Perancis, doh!). Makanya, saya menganjurkan untuk mencoba menonton film ini. Sayang jika film ini sebagus ini hampir tidak pernah dilirik, karena jujur saja saya menemukannya di salah satu toko DVD berjajar dengan ‘film-film aneh’ macam Lord of the Rings 6 atau Assassin’s Creed jadi-jadian. Saya memang terlalu beruntung untuk membeli film ini dan menontonnya.

Recommended Consensus: Be lucky as Lucky Luke to experience this wonderful movie. Comical, funny, and dramatic is three words to portray the cinematography and the visualization of the movie. Lucky Luke can definitely shoots our hearts faster than the shadow. Applause!

Read Full Post »

A Tale about the Bet and the World Behinds the Glasses
Dr. Parnassus adalah seorang immortal, ia dikaruniai umur yang tak terhingga. Ia dan kelompok kecilnya (anaknya Valentina, Anton, dan seorang dwarf atau apalah, Percy) berkeliling dunia untuk mengajak orang-orang untuk merasakan Imaginarium miliknya. Sebuah dunia di balik cermin yang berisi apapun yang pernah diimpikan oleh manusia. Tak ada yang pernah tahu dari mana ia mendapatkan keabadiannya, tetapi semuapun terjawab ketika anaknya, Valentina, menginjak umur 16 tahun. Dr. Parnassus kemudian menceritakan pertaruhannya dengan iblis. Sang iblis yang akrab dipanggil Mr. Nick ini rupanya penggemar sejati pertaruhan, ia menjebak Dr. Parnassus untuk terus menerus bertaruh demi mendapatkan keinginannya. 3 hari sebelum ulang tahun Valentina, kelompok Parnassus bertemu dengan Tony. Terikat tergantung di bawah jembatan, Tony mengaku hilang ingatan. Parnassus akhirnya kembali mempertaruhkan taruhannya kepada Tony untuk memenangkan anaknya kembali.

Saya memuja film ini! Benar-benar hanya keindahan yang ditampilkan di film ini. Sejak detik pertama film dimulai, saya sudah memasuki dunia cermin dan terpukau melihat imajinasi luar biasa yang ada di film ini. Saya salah kalau menganggap, Burton adalah satu-satunya sutradara dewa yang memiliki imajinasi terliar yang pernah ada. Terry Gilliam ternyata adalah seorang dewa juga. Ceritanya juga ajaib! The Imaginarium of Dr. Parnassus mampu membuai dan perlahan-lahan menarik kita masuk ke rangkaian ceritanya dengan wajar. Iya, semakin lama menonton film ini, saya semakin yakin bahwa dunia yang ada di dalam film ini adalah dunia sungguhan. Saya lupa bahwa latar film ini adalah jalanan kota London entah di tahun berapa, dan mana mungkin ada orang yang tidak mati-mati walau digantung berkali-kali.

Terry Gilliam juga bertaruh dengan baik di film ini. Setelah ditinggal oleh Heath Ledger, ia terpaksa mengubah jalan cerita film ini—yang anehnya, tersamarkan dengan baik. Tanpa mengubah kehadiran Heath Ledger di filmnya, Gilliam menggunakan aktor-aktor lain (Jude Law, Johnny Depp, dan Colin Farrel) menggantikan keberadaan Ledger ketika masuk ke Imaginarium. Sungguh jenius! Saya suka akting para pemainnya, termasuk Ledger tentunya. Aktingnya mengalir wajar, tidak ada wajah si penjahat sakit Joker sedikitpun. Parnassus dan Valentina (masing-masing diperankan oleh Christopher Plummer dan Lily Cole) juga bermain bagus. Seperti saya bilang tadi, di film ini memang tidak butuh akting yang mati-matian, tapi justru akting wajarlah yang dibutuhkan dan semua pemainnya berhasil menampilkan hal tersebut dengan baik. Valentina sungguh tampak seksi dan Parnassus sungguh menggambarkan kepedihan hatinya karena ‘dikutuk’ hidup selamanya.

Selain akting para pemainnya, yang memainkan ansambel yang menarik, yang patut dipuji juga adalah artistik dari film ini. Oscarpun memuji bagian ini dengan memberinya nominasi untuk Best Art Director, walaupun (sayangnya) AVATAR harus memenangkan kategori ini. Jika harus membahas bagian ini, seperti sudah saya bilang di awal, hanya keindahan yang ada di film ini. Benar-benar menakjubkan. Dunia imajinasinya berhasil dibangun dengan bukan hanya CGI yang menarik, tetapi juga set dunia yang dibuat tangan. Saya suka adegan pertama ketika seorang pemabuk masuk ke Imaginarium tersebut, set hutannya dibuat dari kertas, luar biasa! Saya juga suka bagian ketika Tony mengubah panggung Parnassus (yang klasik dengan warna emas gemerlap) dan menggantinya dengan warna hitam-putih yang kontemporer. Penggambaran karakter Mr. Nick juga luar biasa. Walaupun ia adalah iblis, ia digambarkan layaknya Charlie Chaplin dengan setelah jas hitam putih dan topi bulat, juga rokok yang selalu tersulut. Dengan tampilan yang justru tidak menyebalkan, kecuali matanya yang menyipit licik, Tom Waits berhasil membuat tokoh ini menjadi tokoh yang bisa saya benci.

Dari bagian ceritanya, saya memberikan standing applause, saya suka sekali film ini! Endingnya—walau belum tentu bisa diterima semua orang—sungguh memuaskan buat saya. Ini sebuah pernyataan, film ini lebih memuaskan dahaga saya akan film surealis jauh jauh jauh melebihi Alice in Wonderland di tahun ini. Sehingga, saya merekomendasikan film ini untuk ditonton. Silahkan saja pilih medianya, entah di bioskop atau di DVD. Saya sih menyarankan untuk nonton di DVDnya saja, karena pemahaman akan film ini membutuhkan waktu loading yang lumayan sehingga kadang saya memutar ulang beberapa adegan (mungkin ini karena saya agak lemot). Selain itu, di tempat tinggal saya sekarang (sebut saja Bandung :P), belum ada tanda-tanda kehidupan akan pemutaran film ini di bioskop (setahu saya di Jakarta sudah diputar).

Recommended Consensus: The Imaginarium of Doctor Parnassus pulls out our deepest imagination and brings the most sensitive senses of our thought. Bringing us a very great artistic scenery and visualization. Gilliam’s imagination successfully gives us an irresistible visual and mind blowing experience that will be hard to forget. Great, great, great films of (last and) this year!

Read Full Post »

Percy Jackson and the Olympians The Lightning Thief keluar di saat yang bersamaan dengan Alice in Wonderland. Jadi, saya (tentu saja) memilih untuk nonton Alice in Wonderland. Banyak yang bilang film ini jelek, jadi kunjungan saya ke bioskop untuk menonton film ini agak terhambat, walaupun sebenarnya saya tertarik sekali. Sampai akhirnya, banyak kritik yang membandingkan Clash of the Titans dengan film ini, saya kemudian tertarik untuk menonton lagi (di DVD tentu saja, soalnya filmnya sudah tidak ada di bioskop).

Film ini bercerita tentang Percy Jackson, si anak dewa Poseidon (disebut demi-god di film ini, karena setengah dewa dan setengah manusia). Diceritakan bahwa lightning bolt Zeus yang merupakan senjata terdahsyat hilang dan anak Poseidon dituduh sebagai pelakunya. Semua orang mengincar Percy, karena Zeus telah mengultimatum bahwa jika lightning bolt itu tidak dikembalikan sebelum solstice (titik balik matahari, saya kurang tahu artinya), maka perang akan terjadi. Begitulah akhirnya Percy mengetahui bahwa ia adalah anak dewa karena beberapa kejadian termasuk penyerangan monster-monster aneh, dan kemampuannya bertahan di dalam air. Bersama pelindungnya, satyr (manusia setengah kambing) bernama Grover, iapun masuk ke tempat pelatihan para demi-god. Di sanalah ia bertemu dengan Annabeth (anak Athena), akhirnya ketiganya memulai perjalanan untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah dan menyelamatkan ibunya dari ancaman Hades.

Ternyata… filmnya SEGAR! Saya suka penggambaran modern elemen-elemen dewa di film ini. Mulai dari penggambaran Medusa yang pakai kacamata hitam (wow, Uma Thurman tetap keren walau hanya jadi cameo) dan converse bersayap (KEREN, KEREN sekali!). Yang saya suka lagi adalah tokoh Persephone yang merupakan istri Hades dan si Hades sendiri. Keren! Di lagenda aslinya sendiri, Persephone dijebak Hades untuk tinggal di neraka, tetapi setiap beberapa bulan sekali ia diperbolehkan mengunjungi Ibunya di dunia. Nah, pada waktu itulah musim semi terjadi dan ketika Persephone kembali ke neraka, maka musim dingin tiba. Di bayangan saya, tentu saja si Persephone adalah wanita lemah lembut yang mampu membuat dunia bergembira karena kedatangannya. Di film ini, justru Persephone digambarkan sebagai hot black momma yang mandiri dan mampu memberontak! Hades sendiri digambarkan sebagai rocker beraksen British dengan baju robek-robek dan hiasan gitar di ruang tamunya yang gothic. Film ini saya katakana segar karena kedekatannya dengan dunia anak muda modern yang mudah sekali disukai. Para penontonnya akan menganggap bahwa ini memang dunia zaman sekarang, dan bisa saja kalau sebenarnya memang ada anak dewa di antara kita. Kalau ada hal-hal aneh yang nggak wajar, yaa bisa saja dianggap wajar, toh ini dunia dewa. Yang lucu juga, jajaran soundtracknya lucu. Sewaktu perjalanan ketiganya ke neraka tempat Hades, soundtrack yang diputar adalah Highway to Hell dari AC/DC.

Selain dari penggambaran elemen-elemen di film ini, alur ceritanya sendiri tidak lepas dari lubang-lubang besar di sepanjang film. Contohnya kenapa tiba-tiba Zeus menuduh Percy yang mencuri lightning bolt, atau Ibu Percy yang tiba-tiba tahu cara mengendalikan lift menuju Olympus, dll. Tetapi, karena film ini termasuk film popcorn, saya jadi memaklumi banyak hal. Saya suka film popcorn, dan saya tahu standar-standar film popcorn. Menurut saya, film ini bisa dikatakan luar biasa untuk standar film popcorn dengan target pasar anak muda. Oh ya, Percy Jackson-nya (Logan Lerman) ganteng (diceritakan di film ini ia punya warna mata sedalam birunya lautan, he?)!

Banyak yang berkata bahwa film ini adalah sekedar salah satu film Harry Potter di mana karakter dewa menggantikan kekuatan sihir, hal itu dipicu oleh si sutradaranya sendiri Chris Columbus (Columbus menyutradarai film Harry Potter and the Sorcerers Stone). Tapi menurut saya, ya sudahlah… Toh tayangannya tetap menghibur. Akhir kata, Percy Jackson and the Olympians The Lightning Thief adalah film yang menurut saya punya target pasar dan tujuan yang jelas dalam pembuatannya. Saya lebih merekomendasikan film ini dibanding Clash of the Titans yang juga mengusung tema yang sama.

Recommended Consensus: Percy Jackson and the Olympians The Lightning Thief is an absolute certified fresh. Although the storyline fell standard amongst other popcorn movies, they successfully transfer the myth to the modern world and give us an entertaining movie that is more than fun to watch.

Read Full Post »

Older Posts »