Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2010

How To Train Your Dragon

Film Keren dengan Makhluk Super Keren dan Adegan Terbang yang Terlalu Keren

Dreamworks kembali mengeluarkan film kartunnya mengikuti kesuksesan Madagascar, Shrek, dan Kungfu Panda. Kisahnya kali ini, oh ya, tentang NAGA. Saya adiktif dengan film kartun (juga dinosaurus dan naga :P). Tapi walaupun sudah dua kali menonton trailernya di bioskop, saya tidak begitu tertarik dengan film ini. Akhirnya kemarin, kakak saya mengajak saya iseng-iseng nonton film ini dan… voila, it’s turned out, awesome!

How To Train Your Dragon baru saja keluar tanggal 26 Maret kemarin dan langsung mendapat rating 96% di RottenTomatoes! My personal opinion? It’s (again) awesome! Film ini dirilis di 2-D dan 3-D, tetapi melihat banyaknya adegan terbang yang mengagumkan, mungkin lebih seru menonton versi 3-Dnya. Ceritanya sendiri tentang seorang pemuda yang terlahir Viking, Hiccup (Jay Baruchel), yang tinggal di sebuah desa bernama Berk. Desa ini mempunyai serangan hama yang tidak biasa—seperti bisa ditebak—serangan hamanya adalah serangan naga. Tidak seperti kebanyakan pemuda di desanya, Hiccup, justru tidak bisa membunuh naga. Hal ini membuat ayahnya, Stoick (Gerard Butler) sang kepala desa dan pemburu naga paling berani, kecewa padanya. Tapi ternyata, hal ini pulalah yang kemudian merubah nasibnya dan merubah kehidupan desa ini untuk selamanya.

Ceritanya diangkat dari novel berjudul sama yang ditulis oleh pengarang Inggris, Cressida Cowell. Ketika mencari cerita novel aslinya di dewa Google, saya baru tahu rupanya alur ceritanya diadaptasi agak berbeda dan tokoh Astrid (America Ferrera) ternyata tidak ada di novelnya. Tapi terlepas dari itu, saya masih tetap suka dengan gaya penceritaan filmnya. Saya suka sekali narasi di awal dan akhir film ketika Hiccup mendeskripsikan desa dan kehidupan Vikingnya, ia berdialog lucu, “We’re Viking, we have stubbornness issue.”

Kalau PIXAR terkenal dengan grafis halus dan cerita super luar biasa, Dreamworks adalah penghasil film dengan humor di atas rata-rata. Humornya menyenangkan dan menyegarkan (sudah nonton Shrek, kan?). Di film ini, justru bagian humornya tidak terlalu ditonjolkan. Lalu, lantas apa yang membuat film ini patut ditonton? Jawabannya adalah, film ini KEREN! Terlampau keren. Mungkin pengembangan karakter masing-masing tokoh di film ini tidak terlalu menonjol. Bahkan sang tokoh sentral, Hiccup, menurut saya tidak terlalu digambarkan dengan baik. Tapi, adegan terbang di film ini, penggambaran para naga, dan adegan pertarungan bangsa Viking di sepanjang filmnya, TOP NOTCH! Kita semua tahu terbang adalah impian seluruh manusia yang terlahir di darat dan Hiccup adalah sebagian orang yang beruntung bisa menyentuh awan dan menggambarkan dunia dari langit. Oh, semua adegan terbangnya luar luar luar biasa! Keren adalah kata yang saya pilih untuk menggambarkan keseluruhan film ini karena memang hanya kata itulah yang pertama teringat ketika saya harus menggambarkan film ini. Adegan yang paling saya suka (selain adegan terbang tentunya) adalah adegan Hiccup pertama kali menyentuh Toothless.

Scoring filmnya juga saya suka sekali. Ada irama Irlandia yang menyenangkan (saya sotoy di bagian ini) dan entah itu suara instrumen apa, tapi itu terdengar enak sekali (bagpipe?).

Saya sengaja tidak mau menceritakan banyak soalnya ceritanya, karena awalnya saya menganggap film ini standar film kartun, yaitu bisa ditebak. Tapi ternyata ada beberapa bagian di film ini yang jauh di luar ekspektasi. Apalagi endingnya, entah harus sedih atau senang, tapi semuanya dicampur jadi satu dan menghasilkan sebuah film yang (kembali) keren luar biasa. Walaupun banyak dialog yang cheesy dan membuat saya berkata ‘Apa sih?’ tapi Anda akan berteriak-teriak seru menonton film ini (hal yang sama terjadi ketika saya menonton Kungfu Panda di bioskop). Credit titlenya pun menarik, walaupun bioskop tempat saya menonton memotong setengah akhir dari creditnya (sial!). Pada akhirnya, mari berlomba-lomba menontonnya di bioskop. Karena langkah berikutnya, anda akan segera mencari novelnya di rak-rak buku.

Recommended Consensus: The movie is just more than a high flying adventure that’s so damn exciting, it’s so awesome! You’re only gonna get this kind of excitement by either watching this movie or playing Crash Bandicoot video game.

Advertisements

Read Full Post »

My Name is Khan

Spoiler Alert!

Saya bukan pengikut Twitter, jadi saya tidak tahu seberapa populernya film ini di dunia maya. Yang jelas, saya sudah dikecewakan 3 kali karena setiap ingin menonton, kursinya selalu penuh. Akhirnya, dua hari yang lalu saya diberi kesempatan untuk menonton film ini. Tips saya buat para penonton, jangan memilih untuk menonton pemutaran yang terlalu malam. Alasannya mudah, karena film ini tergolong film India, durasinya pun mengikuti standar film India. Selama kira-kira 2 jam 45 menit, saya memang terhibur dengan semua tayangan yang ada di layar besar itu. Tetapi, saya juga bisa termasuk capek karena tidak terbiasa menonton film dengan durasi selama itu (FYI, saya juga gk tahan nonton Lords of the Rings dan AVATAR di bioskop. Ada sekitar waktu 5-10 menit saya tertidur di kedua film itu).

Filmnya sendiri memasang icon Bollywood, Sakhrukh Khan, yang berperan memakai nama keluarganya sendiri Rizvan Khan. Seorang penderita Asperger Syndrom yang takut suara keras dan warna kuning, punya kebiasaan mengulangi perkataan orang, dan kebiasaan-kebiasaan aneh lainnya. Tetapi, ia justru diberkati kemampuan memperbaiki barang dan kepintaran di atas rata-rata. My Name is Khan adalah perjalanan hidup Khan untuk mencari kebahagiaan dalam hidupnya dengan penyakitnya yang dideritanya tersebut. Ceritanya sendiri unik dan mengangkat banyak isu rasisme dan agama. Film ini menceritakan kehidupan para India di Amerika yang mengalami titik balik ketika peristiwa 9/11 terjadi. Di mana isu rasisme menjadi tanda tanya besar, tingkat kriminalitas meningkat untuk para penduduk Timur yang tergolong mempunyai garis muka yang sama. Sehingga banyak tindak penganiayaan yang terjadi dan melibatkan banyak orang yang tidak bersalah.

Yang menjadi garis besar film ini adalah bagaimana rasisme diceritakan dengan gaya yang biasa saja. Ada berbagai agama yang diangkat dan dijatuhkan di saat yang bersamaan tetapi diceritakan dengan netral. Contohnya agama Mandira, istri Khan, yang walaupun sesama India adalah seorang Hindu. Ataupun bagaimana Khan menyelamatkan sebuah desa di Georgia yang kebanyakan penduduknya adalah Kristen. Bahkan Khan yang beragama Islam pun sempat melaporkan tindakan ekstrimis sebuah kelompok yang ditemuinya di sebuah mesjid. Buat saya, film ini berusaha netral menangani tingkat rasisme yang ada sejak tanggal 9 September itu memang semakin menjadi. Kalimat yang paling saya ingat adalah, “Amerika dulunya hanya punya dua hal sebagai penanda zaman, BC dan AD. Sekarang, mereka menambahnya dengan 9/11.” Yang membuat saya salut pun adalah karena Khan selalu diajari untuk memandang sama kepada semua orang siapapun dia dan apapun latar belakangnya. Hal ini diceritakan dengan petuah Ibu Khan yang mengajarkannya bahwa hanya dua insan di dunia, yaitu orang-orang yang berbuat jahat dan yang berbuat baik. Itulah mengapa, agama tidak menjadi halangan bagi Khan untuk terus menolong orang lain.

Isu yang diangkat sangat terpuji dan banyak pesan moral yang tercecer di sepanjang film ini, tidak salah tiket film ini sold out di mana-mana. Tapi buat saya, ada beberapa bagian yang terlalu hiperbolis. Salahkan saya yang tidak familiar dengan film India, sehingga saya tidak tahu apakah beberapa bagian memang biasanya seperti itu adanya di area film India. Contohnya pertemuan akhir Khan dengan Sang Presiden maupun bala bantuan yang datang di gereja Georgia.

Akting Sakhrukh Khan mengagumkan, tidak salah ia yang dipilih memerankan karakter ini. Kali ini, Sakhruh Khan kembali dipasangkan dengan Kajol (setelah sebelumnya juga bermain bersama di Kuch Kuch Hota Hei). Nah, saya justru kurang sreg dengan akting Kajol di film ini. Bagaimana menjelaskannya, ya? Saya merasa Kajol memerankan Mandira dengan terlalu genit dan sok asik sehingga nampak berlebihan. Hal ini memang kontras dengan karakterisasi Khan yang sangat konservatif dan lugu, tapi saya masih merasa aktingnya tidak sepantasnya seperti itu. Dari sinematografi, ada beberapa adegan yang sangat saya kagumi. Salah satunya adalah adegan ketika Mandira memotong rambut Khan di salon. Di adegan itu, tergambar semua kecantikan Mandira di mata Khan dan kekagumannya dengan jelas. Juara! Tapi di keseluruhan film, sinematografinya memang tergolong biasa saja menurut saya (saya memang berharap banyak setelah Slumdog Millioniere tampil dengan sinematografinya yang luar biasa itu).

Kesimpulan akhirnya, My Name is Khan kaya dengan isu yang diangkatnya. Sehingga hal itulah yang menjadi daya tarik utama dan ujung tombak film ini. Anda bisa berharap banyak dari film yang ‘lama’ ini, karena selama menonton, Anda tidak akan bosan dengan ceritnya. Lonjakan cerita dan alur yang pas memang dibubuhkan dengan baik. Tawa dan tangis bisa bercampur aduk, dan siapkan diri Anda dengan keduanya sebelum menonton film ini. Oh iya, saran terakhir saya. Jangan berekspektasi terlalu tinggi dengan film ini, karena pada akhirnya Anda akan menemukan bahwa film ini memang sangat indah dan patut diberi banyak pujian.

(maaf kalau ada beberapa ejaan yang salah dalam penulisan nama-nama di atas)

Read Full Post »

Will it have the same excitement like the first time we fell down those rabbit hole?

Baiklah, saya akan menyatakan di awal review ini tentang dua hal. Hal yang pertama, bahwa Tim Burton adalah seorang visioner idola saya yang berkali-kali membuat saya menganga atas film-film surealis terhebat dengan imajinasi terliar yang pernah saya lihat. Hal yang kedua, buat saya Alice in Wonderland adalah sebuah kitab untuk para pencinta cerita surealis yang telah menginspirasi saya (seperti halnya King of Bandit Jing dan Big Fish). Saya akan berusaha objektif untuk menilai film ini dan membuat sebuah review yang ingin sekali saya tulis bahkan sebelum saya menonton film ini.

Alice in Wonderland adalah sebuah film yang berawal dari novel terkenal dari Lewis Carroll di tahun 1865. Di tahun 1951, Walt Disney mengangkatnya menjadi serial kartun ‘teraneh’ yang pernah saya tonton. Buat saya, Alice in Wonderland versi kartun ini adalah salah satu kartun ‘terberat’ untuk konsumsi anak-anak (sama halnya dengan Wall-E yang berat juga menurut saya). Alice in Wonderland versi ini merupakan penggabungan dari dua seri novel Alice yaitu Alice’s Adventure in Wonderland dan Through the Looking Glass. Sehingga tidak aneh jika Tweedledee dan Tweedledum yang cuma muncul di Through the Looking Glass malah muncul di versi ini. Bertahun-tahun kemudian, di tahun 2010 tersebutlah kolaborasi terhebat yang pernah dibuat. Film Alice in Wonderland telah jatuh ke tangan salah seorang sutradara terhebat yang pernah hidup, yang telah berhasil menghidupkan seri lagendaris lain, Roald Dahl’s Charlie and the Chocolate Factory menjadi nyata. Sutradara tersebut adalah Tim Burton dan Alice in Wonderland mengundang kita semua ke sebuah tanggal ter-penting di tahun ini, 4 Maret 2010.

Ceritanya sendiri dibuat tak jauh berbeda dengan versi Alice in Wonderland yang telah kita tahu. Tetapi setting waktunya adalah bertahun-tahun setelah Alice terdampar di Wonderland ketika kecil. Alice (Mia Wasikowska), yang sudah berumur 19 tahun, tengah menghadapi pertanyaan sulit ketika akhirnya ia mengikuti jejak seekor kelinci putih dan terjatuh ke dalam sebuah lubang. Kali ini, Alice tidak berpetualang ke Wonderland, ia sedang melihat Underland. Menurut saya, Underland sendiri tampak seperti penggambaran Wonderland dari sisi Burton, ada sentuhan gelap yang kental terasa di tempat ini. Ceritapun bergulir dengan tokoh-tokoh yang tak asing lagi, Chesire Cat, Mad Hatter, March Hare, The Red Queen, dll. Di sepanjang film ini, semua tokohnya menyebut-nyebut nama Alice dan mengatakan bahwa ia adalah Alice yang salah (the wrong Alice bahasa filmnya). Concern terbesar saya di film ini memang di soal cerita, Lewis Carroll menciptakan Alice in Wonderland dengan banyak pesan berat yang tersirat soal self-discovery (sampai saat inipun saya masih sering mencari-cari maksud-maksud apa lagi yang tersirat di novel ini, coba Anda googling pasti akan banyak temuan dan fakta-fakta menarik soal Alice in Wonderland), tetapi harusnya pesan yang ada di film ini akan langsung berubah total ketika Alice telah tumbuh dewasa dan justru kehilangan jati dirinya di film ini. Tetapi, Anda masih tetap akan dapat menikmati keseluruhan film ini karena mungkin pesan-pesan ini dibuat seringan mungkin untuk menyesuaikan diri dengan keadaan zaman sekarang. Mungkin hal ini jugalah yang menyebabkan rating Alice in Wonderland hanya 60% di RottenTomatoes dan beberapa kritikus tidak begitu menyukai film ini.

Dari sisi visualisasi, ah tidak usah ragu lagi! Jaminan mutu. Alice in Wonderland disyuting secara 2-D untuk kemudian diproses ke 3-D agar memperkuat sisi visualisasinya. Tapi, saya menyarankan untuk menonton 2-D nya saja, warna-warna yang ada di film ini luar biasa kaya. Menarik dan menyenangkan. Ada penurunan warna ketika kita menonton versi 3-D nya. Lalu secara pribadi sih, menurut saya keberadaan si subtitle untuk penonton Indonesia nampaknya wajib ada. Karena film ini banyak mencuplik dialog bukunya dan kadang Mad Hatter akan berbicara dengan aksen Scotland atau apalah itu dengan sangat cepat sehingga jangan berharap terlalu banyak untuk menangkap kalimat-kalimatnya dengan jelas. Saya pribadi suka baju-baju Alice yang ada di film ini, walaupun tidak menangkap kenapa dia harus terlalu banyak berganti baju. But well, it’s called surrealist anyway, why bother to ask!

Akting? Hmm… tidak usah ragu juga! Helena Bonham-Carter dan Johnny Depp adalah expert di bidang ‘memerankan karakter ajaib’. Saya memang agak tidak suka dengan penggambaran Mad Hatter yang menjadi salah satu tokoh sentral di film ini (kalau ingin memilih, saya lebih suka Chesire Cat yang menjadi side-kick Alice), dan Johnny Depp memainkan karakter yang menjadi biasa saja di film ini, obvious-lah. “Off with his head”, kalimat yang sering dikatakan Red Queen itu justru terdengar merdu buat saya, keren! Saya tidak menduga efek kalimat lagendaris itu akan semaksimal itu di film ini. Mia Wasikowska—terlihat sangat luar biasa cantik dan charming—memerankan Alice yang tidak tampak kebingungan di sepanjang film walaupun ia telah melafalkan kalimat lagendaris lainnya, “Curiouser, curiouser.” Oh ya, credit lain jatuh ke karakter Chesire Cat yang walaupun adalah kucing (FYI, saya benci kucing) tampak keren dengan loreng biru elektrik di sepanjang film, juga kepada Alan Rickman sebagai pengisi suara Blue Caterpillar yang terdengar sangat bijak.

Tambahan-tambahan lainnya, saya suka scoring-nya. Mezmerizing! Membungkus atmosfer si Underland dengan baik. Lagu Avril Lavigne yang ada di credit title-nya juga catchy sekali. Menarik, menarik.

Secara keseluruhan, saya menyarankan Anda untuk menonton Alice in Wonderland. Film ini telah berhasil menggabungkan dua elemen ter-lagendaris yang pernah ada, tidak heran mungkin film ini suatu saat akan menjadi lagenda juga. Terlepas dari semua kekhawatiran dan kritik di luar sana, Anda tidak akan sempat mempertanyakan apapun ketika menyaksikan tayangan visual yang disajikan di depan Anda. Toh Anda akan tetap bisa tertawa dengan adegan-adegan di film ini dan ikut deg-degan ketika menyaksikan pertarungan antara pasukan kartu dan pasukan catur yang epik itu. Lupakan surealisasi Lewis Carroll dengan Alice’s Adventure in Wonderland dan nikmati surealisasi zaman sekarang Tim Burton di Alice in Wonderland.

Recommended Consensus: In every story, there’s always a fight between good or bad. In Alice in Wonderland, you won’t find a certain black against white instead, it will give you amazingly red against white! Speechless when you count the amazingly-gorgeously-imaginary-visualization of Alice in Wonderland as the main course of the menu. But off with the story as the desert.

PS: Oh iya, saya kemarin kebetulan nonton versi 3-D nya. Terus bagian paling menarik adalah saya berkesempatan untuk nonton trailernya Toy Story 3 in 3-D!!! Huoooo!!!! The movie I’m dying for this year.

Read Full Post »