Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2009

High School Musical

High School Musical Series // 2006 – 2008 // Kenny Ortega // Disney Channel// Zac Efron, Vanessa Hudgens, Ashley Tisdale

Ketika berbicara tentang film untuk anak-anak, tidak banyak orang yang menganggap serius untuk membuatnya benar-benar untuk anak-anak. Setidaknya, hanya Disney Channel yang benar-benar tahu bagaimana membuat program TV untuk anak-anak. 25 tahun mengudara dan mengkhususkan dirinya di program tayangan TV untuk anak-anak, kita dapat meyakini bahwa Disney memang telah menjadi ahli di bidangnya. Lihat saja film-film tv serial terkenal seperti Lizzy Maguire, That’s So Raven dan Hannah Montana. Tapi, mungkin Disney tidak menduga bahwa High School Musical, salah satu original movie mereka yang pertama diputar di awal tahun 2006 ternyata mampu meraih sukses dan menjadi fenomena pop hampir di seluruh negeri.

Sebelum akhirnya menulis review ini, saya membaca banyak review tentang High School Musical, yang sudah saya pastikan kebanyakan pasti akan berkata senada. “High School Musical memang bagus, tapi hanya untuk target penontonnya”. “High School Musical itu film cheesy dengan script yang hanya pantas disebut draft”. Ataupun kenyataan bahwa, “High School Musical tidak pantas mendapat sukses yang begitu besar walaupun ke-14 keponakan saya merekomendasikan film ini”. Menurut saya, mereka terlalu keras menilai film ini.

Ceritanya sendiri adalah tentang kapten tim basket, Troy Bolton (Zac Efron) dan seorang anak pindahan yang ternyata jenius, Gabriella Montez (Vanessa Hudgens) yang kebetulan bertemu di sebuah tempat liburan dan kebetulan pula berduet karaoke di sebuah pesta tahun baru. Takdir membawa mereka bertemu kembali karena ternyata Gabriella adalah murid pindahan di SMU Troy. Keduanya (yang menyadari kenyataan bahwa mereka bisa menyanyi dan ingin kembali menyanyi bersama) kemudian secara kebetulan juga mendaftar untuk audisi drama musikal sekolahnya. Plot yang sesungguhnya muncul ketika Troy sebagai kapten tim basket WildCats melakukan hal yang unpredictable dengan mengikuti audisi tersebut, sehingga teman-teman tim basketnya ingin Troy tetap menjadi kapten tim basket seperti yang seharusnya. Dalam perjalanannya, mereka mendapat gangguan dari kakak beradik Sharpay (Ashley Tisdale) dan Ryan Evans (Lucas Gabreel), langganan peran utama drama musikal di sekolah tersebut. Karena merasa terancam dengan kehadiran Troy dan Gabriella, mereka berduapun melakukan segala cara untuk mencegah keduanya ikut audisi.

Cheesy? Ya, tentu saja. Sangat malah. Plotnya terlalu jelas, kita tahu cerita ini akan berakhir bahagia dan tentu saja ditutup dengan lagu. Saya juga menonton film ini dengan penuh prasangka, dan berakhir dengan saya malah jatuh cinta pada film ini. Dialog-dialognya dapat ditebak. Dan kita akan tahu timing bahwa sebuah lagu akan diputar beberapa menit sebelum mereka akan bernyanyi. Yang unik, saya terpukau dengan tokoh Sharpay (saya langsung jatuh cinta pada Miss Tisdale setelah menonton film ini), ia memainkan perannya dengan baik sebagai seorang pempered princess, ia adalah seorang screen-stealer yang mengagumkan. Yang patut dipuji adalah chemistry di antara kedua tokoh utamanya, Efron dan Hudgens membuat kita percaya bahwa mereka benar-benar jatuh cinta dengan manis (dan lagi-lagi terlalu manis). Walaupun akting mereka sering berlebihan di sana-sini dan akting dari para artis pendukungnya seperti sangat ingin menunjukkan karakter mereka dengan sangat obvious.

Judul film ini High School Musical, tentu saja ada musikal di dalamnya. Dan jika ingin memberikan bintang, saya harus memberikan 5 dari 5 bintang untuk scoring dan soundtrack di film ini. Semua orang akan setuju bahwa lagu-lagu di film ini mudah dinyanyikan dan dinikmati. Lagu-lagunya pun disadari atau tidak menyampaikan pesan yang sangat eksplisit, macam “Start of Something New” dan lagu “Breaking Free” yang menyampaikan bahwa kita bisa menjadi apa saja jika kita mengikuti mimpi kita. Lagu-lagunya diciptakan sesuai dengan karakter penyanyinya (tentu saja). Seperti lagu ”Bop to the Top” yang ditampilkan secara Espanola oleh Sharpay dan Ryan. Hanya mereka yang mampu menyanyikan lagu seperti itu dengan baju dan tarian yang sekilas ’freak’. Saya memang penggemar duet ini, buktinya saya lebih suka lagu “What I’ve Been Looking For” versi Sharpay-Ryan yang sangat ceria daripada versi Troy-Gabriella yang mendayu-dayu.

Layaknya film yang booming mendadak, tentu saja harus ada SEKUEL! Ya, dan Disney Channel kembali meraih kesuksesan luar biasa dengan dua film selanjutnya, High School Musical 2 dan versi layar lebar mereka, High School Musical 3 : Senior Year. Ceritanya sendiri masih mengetengahkan percintaan Troy dan Gabriella dan persahabatan geng WildCats dalam menghadapi cobaan yang terwujud dalam bentuk Sharpay dan Ryan. Walaupun akhirnya keduanya harus mengakui kekalahan mereka dan mulai dapat membina hubungan baik dengan yang geng WildCats lainnya. Ceritanya, tetap cheesy dengan lebih banyak lagu tentu saja. Tampaknya mereka tidak mampu mengungkapkan perasaan hanya dengan dialog. Harus ada tarian dan nyanyian yang kadang terlalu dipaksakan. Seperti adegan Troy yang marah di High School Musical 2 dan bernyanyi “Bet On It”. Walaupun berlebihan, tapi toh semua orang tetap menyukainya.

Lalu apa yang salah dengan film ini? Kenapa banyak orang membencinya? Banyak yang menyamakan film ini dengan Grease (1978), dan menurut saya, kenapa harus? Seperti tren pakaian, semua hal di zaman dulu seperti terlihat norak. Rambut kribo dan baju ketat di tahun 70-an akan terasa keren di zamannya. Tapi mungkin hanya beberapa yang memakainya di tahun sekarang. Sama halnya dengan High School Musical atau Grease. Mungkin ketenaran High School Musical akan bergema layaknya Grease di tahun-tahun mendatang, siapa yang tahu?

Saya suka film cheesy dan itu bukan guilty pleasure, saya tidak akan menghina-hina di depan orang lain akan film itu walaupun menikmatinya di rumah sendirian. Menurut saya, semua orang pada dasarnya suka film yang cheesy dan popcorn. Kenapa? Karena Anda tidak usah susah-susah berpikir kenapa film ini bergerak terlalu lambat, atau bertanya-tanya kenapa alur ceritanya maju-mundur, lalu mundur, dan maju lagi. Seperti halnya High School Musical, dengan semua ke-cheesy-an dan ke-predictable-an mungkin justru itulah yang ingin ditampilkan di film ini. Film ini tidak sok-sok mengambil realita anak muda Amerika yang banyak bergaul dengan sex, drugs, dan alcohol. Kenny Ortega, si sutradara menampilkan hal-hal manis (terlalu manis malah) di film ini. Di mana, kita dapat menyelesaikan semua hal dengan cinta dan persahabatan, seperti yang dituangkan dalam lagu finale mereka di film ini “We’re All in This Together”. Film ini memang diciptakan untuk anak-anak, yang seharusnya mendapatkan realita bahwa tidak semua hal di dunia ini penuh dengan hal-hal buruk dan gelap. Mungkin, sekilas saya terlalu membela film ini. Tapi menurut saya, High School Musical adalah sebuah film yang mempunyai tujuan yang jelas, target penonton yang jelas, dan kenapa masih mempeributkan bahwa seharusnya film ini tidak layak mendapatkan sukses?

Advertisements

Read Full Post »

The Mainstream Effect

Everybody just pretend to be independent and the so called ‘different’ from any other things. We listen to punk and decline pop. We trash Twilight and watch Pulp Fiction. In a matter of fact, we act the same as the rest of us. What’s the deal of being different?

So, this is my act of being mainstream.

Here on, you’ll find the so called review I wrote. Most of them is crap, other is, more of it. The review is not bold, or different than any other review. It is maybe won’t help you to understand the movie. But I like to write, and I want to share the experience on watching movies to all of you. Here is the blog I dedicated to my thought and the so called movie review. Enjoy, and have a nice day :)

PRISANTI PUTRI

Read Full Post »