“Meet the Ultimate Dysfunctional Family”
Menikmati Tokyo Godfathers adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan hati. Jujur saja, saya menangis hampir setiap kali menontonnya (padahal di Animax, film ini hampir selalu diputar setiap tahunnya). Tokyo Godfathers adalah film ke-3 Satoshi Kon, yang disutradarai dan ditulisnya sendiri (bersama Keiko Nabumoto) pada tahun 2003. Film ini menyusul kesuksesan Perfect Blue (1997) dan Millenium Actress (2002) yang tidak kalah menakjubkannya. Animasi merupakan salah satu media film yang luar biasa curang, bayangkan bahwa Anda tidak akan menemukan kendala apapun dalam membuat sebuah cerita. James Cameron tidak akan menunggu bertahun-tahun untuk menunggu membuat AVATAR, dan Christopher Nolan tidak akan menunggu lama untuk membuat Inception jika semua film tersebut dibuat dalam media animasi. Tapi itu bisa jadi topik bahasan lain dan saya tidak berniat untuk mengganggu gugatnya. Oleh karena itulah, saya sungguh mengagungkan media ini sedari dulu. Paparan tentang bagaimana media animasi ini diterima di masyarakat bisa dilihat di review Paprika-nya Kevin (a really nice piece :D ). Untuk saat ini, saya hanya akan bercerita tentang film komedi yang saya nobatkan sebagai salah satu film favorit saya.
Tokyo Godfathers diinspirasi oleh film berjudul The 3 Godfathers (1948) yang bercerita tentang 3 orang laki-laki yang berusaha menyelamatkan seorang bayi dari ibunya yang hampir meninggal dan kemudian membesarkannya. Kurang lebih, film inipun bercerita dengan awal yang sama. Di malam natal, tiga orang gelandangan menemukan seorang bayi di tempat pembuangan sampah. Adalah Gin, seorang mantan pejudi yang meninggalkan rumah karena hutang di meja judi, kemudian Hana, seorang transgender yang ceria, juga Miyuki yang lari dari rumah karena bertengkar dengan ayahnya. Berbekal dengan keinginan Hana untuk mengembalikan bayi yang kemudian diberi nama Kiyoko (yang diberikan sendiri oleh Hana), mereka melintasi kota Tokyo dan membawa mereka pada banyak kejadian spektakuler. Yang membuat film ini begitu menyentuh adalah kejadian-kejadian tersebut kemudian menyambungkan mereka dengan masa lalu masing-masing dan kenyataan tentang orang tua asli dari Kiyoko sendiri.

Berbeda dengan dua film sebelumnya, ataupun Paprika yang keluar di tahun 2006, Tokyo Godfathers bercerita dengan lebih sederhana. Komedi yang ditampilkan di dalamnya mampu menggelitik tidak hanya dengan memancing tawa tapi juga menyentuh hati. Tokyo Godfathers banyak bercerita dengan dialognya yang tajam dan mengalir wajar. Obrolan ketiga tokoh utamanya membuat kita sadar akan banyak hal yang terlupa dan terselip dalam rutinitas kita yang sok kompleks. Padahal seharusnya, banyak hal yang lebih penting dari kehidupan kecil kita sendiri. Saya tidak menyuruh Anda semua simpatik dengan kehidupan gelandangan di luar sana, film ini dibuat tidak hanya untuk isu se-klise itu. Kembali ke tagline film ini, arti keluarga dipertanyakan berkali-kali di film ini. Bagaimana kemudian Miyuki ‘secara kebetulan’ harus berjuang dengan alasannya kabur dari rumah maupun pertemuan Gin ‘secara kebetulan’ dengan anaknya yang ternyata juga bernama Kiyoko. Sebuah kalimat yang dilontarkan Hana di awal film “A child is better with her own mother.” kemudian pada akhirnya harus ditepisnya sendiri ketika ia bertemu dengan Sachiko, orang yang mereka cari-cari.
Kelebihan dari film ini adalah kekuatan penokohan para karakternya yang tergambar baik dan membuat saya terus tertarik dengan kegilaan apa lagi yang akan mereka lakukan selanjutnya. Oh, Anda akan segera jatuh cinta dengan ketiga orang lucu ini. Soundtrack utamanya Ode to Joy, yang entah mengapa menambah kemegahan film ini karena penempatannya yang sesuai di sepanjang film.
Pada akhirnya, semua rangkaian kejadian tersebut ‘secara kebetulan’ membentuk sebuah film yang luar biasa indah untuk dinikmati bersama seluruh keluarga (saya kebetulan nonton dengan kakak dan adik saya). Untuk para penikmat film animasi, film drama, film komedi, fim keluarga, film petualangan, ataupun penghangat hati di kala sepi, saya jelas-jelas akan selalu merekomendasikan film ini. Dengan kesederhanaannya, Tokyo Godfathers telah menjadi sebuah film yang lengkap memenuhi hati kita dengan kehangatannya.




Dari akting, Robert Downey Jr dan Gwyneth Partlow tidak usah diragukan lagi, mereka masih berperan bagus seperti di Iron Man pertama. Jujurnya, saya masih lebih suka Terrence Howard untuk berperan sebagai Capt. Rhodey, tetapi toh Don Chadle juga bermain baik. Tetapi saya masih merasa dia masih tidak terlalu komikal untuk berperan sebagai tokoh adaptasi komik. Mickey Rourke keren sekali, berperan sebagai Ivan Vanko yang jenius. You’ve got to love this man! Mukanya jahat sekali, dan kerut-kerut di wajahnya membuat tokoh ini semakin terlihat jahat tulen. Keren! The Black Widow—Natalie Rummerson (Scarlett Johanson) memang berakting tidak terlalu istimewa, dan mungkin kehadirannya tidak terlalu berpengaruh di jalan ceritanya sendiri tapi dia cantik sekali, wuih! Kejutannya, Jon Favreau bermain di film ini sebagai Happy Hogan.
Tulisan ini dibuat pada tahun 2008 dan sekaligus menjadi awal pertama kali saya menulis review film.